adsense

Adsense Indonesia

Kamis, 20 November 2008

local legends of IndoNesia

LONG LIVE LOCAL LEGENDS!

“Know The Past To Know The Future” Tag line yang digunakan sebuah EO papan atas Ibukota untuk sebuah acara annual mereka diatas sangatlah penting untuk diingat, terutama bagi generasi muda yang hidup di masa kini. Meningkatnya kualitas hidup di era ini yang mencakup semua elemen penting dalam kehidupan sehari-hari Anda, seperti edukasi, teknologi, dan kemudahan dalam mendapatkan apa-apa saja yang Anda inginkan, cenderung membuat Anda menjadi arogan terhadap kekurangan-kekurangan yang dihadapi oleh generasi pendahulu di masa lalu. Kita semua pasti pernah menggunakan kata JaDul (Jaman Dulu) dengan konotasi melecehkan yang sarkastis. Seakan-akan semua yang tidak up-to-date itu pasti sangatlah tidak penting. Pasti ada saja diantara kita yang pernah berpikir alangkah dungu-nya si mama dan papa karena sampai sekarang masih saja bingung bila ingin mengirim e-mail, biarpun sudah di ajarkan berkali-kali! Ini biasanya menciptakan sebersit rasa tidak respect yang berakhir dengan kekurang-ajaran perilaku Anda terhadap mereka. Bayangkan, hanya karena rasa tidak sabar… Biarpun ada juga jenius-jenius dari masa lalu yang akan senantiasa dihormati namanya oleh ‘the now generation’, tapi kita justru cenderung melupakan mereka yang keberadaannya sangat dekat dengan kita. Padahal kalau dipikir-pikir, tanpa bantuan generasi pendahulu masa lalu Anda tak akan bisa menikmati kenyamanan hidup yang tersedia bebas sekarang ini. Tanpa mereka, Anda yang wanita mungkin masih saja dianggap lebih rendah level-nya dibandingkan para pria. Tanpa mereka, dunia kesenian bangsa mungkin hanya bisa terbatas dengan kerajinan tangan tradisional saja. Contoh yang paling jelas-jelasan menunjukkan betapa pentingnya generasi pendahulu untuk kehidupan kita di masa kini adalah: tanpa mereka, kita tidak akan ada. Sekarang tibalah saatnya bagi generasi kita, bersamaan dengan para generasi penerus, untuk mulai secara drastis merubah sikap negatif yang sudah terlalu sering kita unjukkan ketika berhadapan dengan mereka yang berasal dari generasi masa lalu. Anda memang mungkin jauh lebih pintar, lebih sehat, tinggi, fashionable, fast, sophisticated, open minded, dan jauh lebih bebas berekspresi. Namun siapakah yang telah berjuang sedemikian rupa sehingga Anda bisa berada dalam keadaan seperti itu? Berikut ini adalah tokoh-tokoh legendaris Indonesia, yang namanya patut ditanam dalam-dalam di hati dan pikiran kita semua, sampai ke generasi penerus, dan seterusnya… dan seterusnya… -Dr. Mohammad Hatta: Proklamator Kemerdekaan, Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, dan Bapak Koperasi Indonesia (1902-1980) Tidak semua politikus negara Indonesia berhidung belang. Bung Hatta telah membuktikan hal ini selama masa kedudukannya di dunia politik masa lalu. Selain kemampuannya sebagai politikus, Bung Hatta juga dikenal lewat tulisan-tulisan beliau yang mengagumkan. Pada tanggal 22 Maret 1928, Bung Hatta mengemukakan pidato mengagumkan di pengadilan Den Haag, Holland, yang kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan nama ‘Indonesia Vrij’ (kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai ‘Indonesia Merdeka’). Bung Hatta sempat dibuang di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua). Disana, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat kabar ‘Pemandangan’. Honorariumnya cukup untuk biaya hidup dan dia dapat pula membantu kawan-kawannya. Hatta juga memberikan pelajaran kepada kawan-kawannya di pembuangan mengenai ilmu ekonomi, sejarah, dan filsafat. Selama masa pendudukan Jepang, Hatta tidak banyak bicara. Namun pidato yang diucapkan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada tanggaI 8 Desember 1942 menggemparkan banyak kalangan. “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali." Wow… Tangal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta lalu beliau diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama. Bung Hatta tetap aktif memberikan ceramah di berbagai lembaga pendidikan tinggi, tetap menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi, juga aktif membimbing gerakan koperasi untuk melaksanakan cita-cita dalam konsepsi ekonominya. Karena besamya aktivitas Bung Hatta dalam gerakan koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 dia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung. Sesudah Bung Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI, ia memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam ilmu hukum dari Universitas Gajah Mada di Yoyakarta, juga, beberapa gelar akademis dari berbagai perguruan tinggi. Universitas Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa di bidang ilmu hukum. Pada tahun 1960 Bung Hatta menulis "Demokrasi Kita" dalam majalah ‘Pandji Masyarakat’. Sebuah tulisan yang terkenal karena menonjolkan pandangan dan pikiran Bung Hatta mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia waktu itu. Dalam masa pemerintahan Orde Baru, Bung Hatta lebih merupakan negarawan sesepuh bagi bangsanya daripada seorang politikus. Pada tanggal 15 Agustus 1972, Presiden Soeharto menyampaikan anugerah negara berupa Tanda Kehormatan tertinggi "Bintang Republik Indonesia Kelas I". Bung Hatta wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Dr Tjipto Mangunkusumo, Jakarta, pada usia 77 tahun. -Ibu Kasur: Tokoh Pendidikan Anak dan Pencipta Lagu Anak-Anak (1926-2002) Ibu Sandiah adalah nama asli Ibu Kasur. Bersama suaminya, Pak Kasur (panggilan Kasur berasal dari kata ‘Kak Sur’, sebutan akrab Pak Kasur yang bernama asli Suryono) beliau mendedikasikan hidupnya pada kesejahteraan anak-anak. Sebagai pencipta lagu anak-anak, nama Bu Kasur memang tidak asing lagi. Lagu-lagu ciptaanya banyak yang menjadi lagu legendaris sepanjang masa, antara lain ‘Sayang Semuanya’, ‘Selamat Pagi’, ‘Tok Tok Tok’, ‘Buah Apa Itu’, dan lain-lain. Sejak 1962 Bu Kasur mulai dikenal luas oleh masyarakat terutama anak-anak ketika membawakan acara ‘Taman Indria’, ‘Arena Anak-Anak’, dan ‘Mengenal Tanah Air’ di TVRI. Selain mencipta lagu dan tampil di berbagai panggung acara televisi dan siaran radio, ia juga mengelola lima Taman Kanak-kanak ‘Mini’ yang salah satunya berlokasi di kawasan Cikini (sekaligus rumah tinggal Bu Kasur). Sudah banyak alumninya yang sudah menjadi orang besar. Diantaranya Presiden Megawati, Guruh, dan Ateng (pelawak). Belajar sambil bermain, bermain sambil belajar. Itulah kata kunci yang melandasi pola pikir dan pola tindak yang senantiasa dihayati dan dilaksanakan. Lagu ‘Sayang Semua’, misalnya, mengandung unsur pembelajaran sekaligus pendidikan meski sederhana. Lagu itu lahir karena beliau ingin mengajar anak-anak mengenali dan menanamkan rasa cinta kepada anggota keluarga, sambil memperkenalkan angka-angka. Sederhana lagunya, sederhana syairnya. Sampai-sampai Bu Kasur berusaha sebisa mungkin menghindari pemakaian huruf ‘r’ pada syair-syair lagunya karena huruf 'r' itu termasuk huruf yang relatif sulit di lidah anak-anak. Atas jasanya di dunia pendidikan anak-anak, Ibu Kasur pernah menerima sejumlah penghargaan, antara lain Bintang Budaya Para Dharma pada tahun 1992, penghargaan dari Presiden dalam rangka Hari Anak Nasional (1988), serta Centro Culture Italiano Premio Adelaide Ristori Anno II dari Pemerintah Italia pada tahun 1976. Terakhir Bu Kasur juga mengantungi penghargaan sebagai pembawa acara anak-anak legendaris di televisi. Bu Kasur akan selalu diingat sebagai sosok yang penyayang, sederhana, tapi juga fun dan sangat pintar mengajar! FREE! loves Bu Kasur forever! -Jack Lesmana: Maestro Jazz Indonesia (1930-1988) Jack Lesmana lahir di keluarga pencinta seni. Ayah Jack adalah penggemar biola, sementara ibunya pernah menjadi penyanyi dan penari dalam kelompok opera Miss Riboet. Pada usia 12 tahun, Jack yang telah pandai bermain gitar bermain dalam sebuah kelompok, Dixieland. Jack pun akhirnya jatuh cinta dengan genre musik jazz. Seumur hidupnya Jack selalu punya gagasan kreatif. Ia pernah mengasuh acara TVRI ‘Nada dan Improvisasi’ untuk memperkenalkan jazz secara mainstream. Pada era 1970-an, ketika gairah jazz pribumi menurun, ia mengundang musisi jazz masuk ke Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Ia mengajak pecinta jazz kembali dihipnotis oleh jazz seperti pada era 1960-an ketika ketenaran Jack dan kawan-kawannya (musisi jazz Buby Chen, Maryono, Kibound Maulana, dan Benny Mustafa), yang tergabung dalam The Indonesia All Stars, meluas ke luar negeri. Lama kelamaan jazz kembali memikat rakyat di Tanah Air. Ini adalah prestasi Jack yang tidak pernah dilakukan musisi lain. Jack Lesmana termasuk ‘gaul’. Ia tidak pernah segan mengundang para musisi jazz, dari dalam maupun luar negeri, untuk singgah di rumahnya berdiskusi tentang jazz. Ia menjadi ‘guru’ yang asik dan berprinsip dalam bermusik, serta musisi yang punya komitmen tinggi dalam musik jazz. Ia menerima sejumlah penghargaan yang menunjukkan bahwa ia tidak hanya sekedar musisi yang baik tetapi juga berperan besar dalam mengembangkan jazz pribumi di masyarakat. Karena jasanya, jazz tidak lagi menjadi sesuatu yang asing di negeri ini. Pada 1979 Jack Lesmana sekeluarga hijrah ke Australia. Ia mengajar di sebuah konservatorium musik disana. Anaknya, Indra yang mendapat beasiswa dari Jazz Department Australia, semakin mantap sebagai pianis muda berbakat. Ternyata selain hebat menggurui masyarakat jazz, Jack juga seorang ayah yang berhasil mewariskan bakat musik pada anaknya! Ketika Jack Lesmana meninggal karena diabetes, Indonesia kehilangan seorang musisi sejati yang mempertaruhkan seluruh hidupnya pada musik tanpa kompromi. Ia memang bukan komponis yang punya karya besar dalam musik, tetapi ia telah membuka pintu bagi musisi-musisi muda untuk berkarya lebih baik. Sekarang Indra Lesmana adalah salah satu musisi terpopuler di Tanah Air sedangkan anak perempuan Jack,Mira Lesmana, kini adalah salah satu produser film yang sukses. -Pramoedya Ananta Toer: Sastrawan, Kritikus Sosial, dan salah satu orang Asia paling berpengaruh menurut Time Magazine (1925-2006) Pramoedya Ananta Toer (PAT) adalah seorang penulis novel, cerpen, essays, polemics, dan sejarah negara serta rakyatnya. Kedahsyatannya meluas ke seluruh dunia. PAT termasuk salah satu tokoh yang ‘berani’ dalam pembahasan mengenai politik bangsa, sehingga karya-karyanya sempat dimusnahkan dan disensor di Tanah Air sebelum masa reformasi. Karena keberaniannya menentang system pemerintahan Presiden Soekarno dan Presiden Suharto dalam era Orde Baru, PAT diberikan hukuman penjara dan akhirnya ‘dibuang’ ke Pulau Buru sebagai tawanan politik. PAT adalah seseorang dengan otak brilliant yang sangat sederhana. Ini terlihat ketika beliau mengganti nama belakangnya yang tadinya Mastoer menjadi Toer saja, karena Mastoer terdengar terlalu aristokratis. Dia dibesarkan di Blora, Jawa Tengah, dan pengalamannya dapat dibaca dalam kumpulan cerpen semi-autobiografisnya yang bertajuk ‘Cerita Dari Blora’. Lama kelamaan tulisannya cenderung melipir ke arah politik. Setelah meluncurkan buku berjudul ‘Korupsi’, mengenai pekerja di pemerintahan yang jatuh dalam perangkap korupsi, terjadilah ketegangan antara dirinya dengan Presiden Soekarno. Tahun 50-an beliau menjadi dosen sejarah literatur dan mulai mencari bahan ajaran dari materi-materi yang tidak diacuhkan oleh institusi edukasi negara. Rasa simpati PAT terhadap rakyat Cina Indonesia, yang mengalami masa suram di era post-kolonial, membuahkan sebuah kritik terhadap pemerintah yang dianggapnya terlalu pro-Jawa dan tidak perduli dengan daerah dan rakyat kepulauan Indonesia lainnya. Akibatnya PAT dijatuhkan hukuman penjara selama 9 bulan. Pada tahun 1965 terjadilah peristiwa Gerakan 30 S/PKI yang dikabarkan didalangi oleh Partai Komunis. Inilah yang membuat PAT,yang dianggap komunis, terbuang ke Pulau Buru. Selama disana, PAT dilarang menulis, bahkan tak boleh memiliki pensil! Sejak itu pula karya-karyanya dilarang di Indonesia. Tapi PAT tidak putus asa. Dengan bantuan rekan tawanan Pulau Buru (PAT mendikte, mereka membantu menuliskan), PAT berhasil menghasilkan karya masterpiece-nya, yaitu seri 4 buah novel semi-fiksional (‘Bumi Manusia’, ‘Anak Semua Bangsa’, ‘Jejak Langkah’, dan ‘Rumah Kaca’) yang dikenal sebagai ‘The Buru Quartet’. Karyanya ini akhirnya bisa tersebarluas di seluruh dunia dan di terjemahkan ke berbagai bahasa. PAT dibebaskan pada tahun 1979, tapi harus tetap menjalani hukuman house arrest sampai tahun 1992. Selama masa tahanannya di Buru dan di rumahnya, PAT menjadi ‘a cause célèbre’ untuk kebebasan dan human rights. Biarpun karya-karyanya terlarang sebelum era reformasi, rakyat Indonesia berhasil memiliki copy-an dari kiriman mereka yang tinggal di luar negeri, sehingga nama PAT tak pernah terlupakan. Berbagai penghargaan telah diberikan untuknya dan beliau pernah dibicarakan sebagai salah satu kandidat terkuat untuk dianugerahkan Nobel Prize in Literature di Southeast Asia. That’s hot. -S. Sudjodjono: Bapak Seni Lukis Modern (1913-1985) Sejak usia empat tahun Pak Djon menjadi anak angkat bapak Yudhokusumo, yang kemudian membawanya ke Batavia tahun 1925. Sudjojono yang berbakat melukis dan banyak membaca tentang seni lukis modern Eropa akhirnya lebih memilih jalan hidup sebagai pelukis. Pada tahun 1937, dia pun ikut pameran bersama pelukis Eropa di Kunstkring Jakarya, Jakarta. Keikutsertaannya pada pameran itu, sebagai awal yang memopulerkan namanya sebagai pelukis. 

Bersama sejumlah pelukis, ia mendirikan Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia) pada tahun 1937. Ini dianggap sebagai awal seni rupa modern di Indonesia. Selain piawai melukis, Pak Djon juga banyak menulis dan berceramah tentang pengembangan seni lukis modern. Dia menganjurkan dan menyebarkan gagasan, pandangan dan sikap tentang lukisan, pelukis dan peranan seni dalam masyarakat dalam banyak tulisannya. Maka, komunitas pelukis pun memberinya predikat: Bapak Seni Lukis Indonesia Baru.

Lukisannya punya ciri khas kasar, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas. Objek lukisannya lebih menonjol pada pemandangan alam, sosok manusia, serta suasana. Pemilihan objek itu lebih didasari hubungan batin, cinta, dan simpati sehingga tampak bersahaja. Lukisannya yang monumental antara lain berjudul: ‘Di Depan Kelambu Terbuka’, ‘Cap Go Meh’, Pengungsi’ dan ‘Seko’. Pada dasarnya ia seorang nasionalis yang menunjukkan pribadinya melalui warna-warna dan pilihan subjek. Sebagai kritikus seni rupa, dia sering mengecam Basoeki Abdullah sebagai tidak nasionalistis, karena melukis perempuan cantik dan pemandangan alam melulu. Sehingga Pak Djon dan Basuki dianggap sebagai musuh bebuyutan, bagai air dan api, sejak 1935. Dalam komunitas seni-budaya, Pak Djon masuk Lekra, lalu masuk PKI. Namun pada 1957, ia membelot karena perbedaan pendapat mengenai agama. Sejak 1958 ia hidup sepenuhnya dari lukisan. Dia juga tidak sungkan menerima pesanan, sebagai suatu cara profesional dan halal untuk mendapat uang. Pesanan itu, juga sekaligus merupakan kesempatan latihan membuat bentuk, warna dan komposisi.

Ada beberapa karya pesanan yang dibanggakannya. Di antaranya, pesanan pesanan Gubernur DKI, yang melukiskan adegan pertempuran Sultan Agung melawan Jan Pieterszoon Coen, 1973. Lukisan ini berukuran 300310 meter, dan dipajang di Museum DKI Fatahillah. Secara profesional, penerima Anugerah Seni tahun 1970 ini sangat menikmati kepopulerannya sebagai seorang pelukis ternama. Karya-karyanya diminati banyak orang dengan harga yang sangat tinggi di biro-biro lelang luar negeri. Apalagi setelah dia meninggal. Karya-karyanya masih dipamerkan di beberapa tempat, antara lain di: Festival of Indonesia (Amerika, 1990-1992); Gate Foundation (Amsterdam, Holland, 1993); Singapore Art Museum (1994); Center for Strategic and International Studies (Jakarta, Indonesia, 1996); ASEAN Masterworks (Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998). Tanpanya, mungkin sampai sekarang yang ada di Indonesia hanyalah lukisan wanita cantik dan pemandangan saja… - Koes Ploes: Rock ‘n Rollers Tanah Air yang tak ada matinya “News Flash: Koes Bersaudara harus masuk bui karena nekad membawakan lagu ‘I Saw Her Standing There’ dalam sebuah acara. Dalam acara itu, sebuah keributan terjadi, atap di tempat konser dilempari batu oleh orang-orang yang katanya pendukung revolusi Sukarno yang anti kapitalis”.
Whatever… Untungnya hal ini tidak berlangsung lama karena Koes Ploes pun akhirnya berhasil membuat rakyat Indonesia jatuh cinta pada rock ‘ roll. Yeah! Di masa-masa kebangkitan rock Indonesia ini, Koes Plus merekam dan merilis Deg Deg Plas (1969). Album ini tidak terlalu sukses penjualannya, karena masyarakat saat itu belum bisa menerima lagu-lagu mereka. Beberapa lagu dalam album itu seperti ‘Manis dan Sayang’, ‘Derita’, ‘Awan Hitam’, ‘Kembali Ke Jakarta’, ‘Cintamu Telah Berlalu’, adalah lagi-lagu yang kemudian menjadi populer hingga saat ini. Semua ini bermula saat seorang pemuda bernama Koestono Koeswoyo, menjadi tertarik pada musik rock ‘n roll yang sedang menggila di barat. Tony Koeswoyo, nama panggungnya, lalu mengajak saudara-saudaranya yang laki-laki untuk membentuk band. Sebelum itu Tony pernah bermain band bersama kawan-kawannya, Teruna Moeda, yang salah satu personilnya adalah Sophan Sophian (alm.). 
Tapi Tony lebih fokus dengan band keluarganya yang kerap mendapat job menggung. Bayarannya mungkin tidak seberapa, namun mereka jelas senang bisa manggung. Mereka sering mengisi acara pesta dimana mereka pasti bisa makan gratis dalam pesta remaja itu. 
Mereka juga menyambangi sebuah perusahaan rekaman. Bersama perusahaan rekaman itu, the Koeswoyos membuktikan diri sebagai musisi rock ‘n roll handal. Nama besar yang terlibat dalam rekaman itu adalah Jack Lesmana. Tony terus melangkah bersama band-nya, yang berubah nama dari Koes Bersaudara menjadi Koes Ploes. Mereka adalah: Tony, kedua adiknya, Yon dan Yok, serta Murry, seorang anggota baru. Band ini berjaya di tahun ’70-an dan menjadi legenda di blantika musik Indonesia. Musik yang diusung Tony Koeswoyo bersama band dan saudaranya itu menjadi pelopor perkembangan musik pop setelah kejatuhan Soekarno. Perjuangan Koes Ploes yang kerap mengusung lagu-lagu The Beatles diawal karir musik adalah usaha berani yang membuat mereka harus di penjara in the name of rock ‘n roll.
Sampai sekarang lagu-lagu mereka masih senantiasa nyaman didengar dan sering diputar. Hebat. -Benyamin S.: Seniman Multitalenta (1939-1995): Masa kecilnya dihabiskan di daerah Kemayoran dimana dirinya biasa dipanggil si Gentong oleh kedelapan saudaranya. Bakat komedi-nya terlihat sejak mungil,lalu mulai mencuat ketika beliau berumur lima tahun sewaktu mulai rajin tampil di panggung setiap ada perayaan di RT-nya. Bakat seninya semakin menjadi-jadi ketika memasuki SMA Taman Madya. Disana beliau bertemu dengan Ateng dan sering menghibur teman-teman mereka dengan permainan gitarnya. Menjelang tahun ’60-an, bersama dengan dua orang saudaranya, Bang Saidi dan Kaji, serta beberapa orang teman mereka, Benyamin membentuk band yang memainkan lagu-lagu hits barat seperti ‘Blue Moon’, ‘My Way’, dan sebagainya. Namun jaman itu adalah masa-masa dimana Presiden Sukarno mengeluarkan undang-undang super nasionalis yang melarang dimainkannya lagu-lagu barat di Tanah Air (pada tahun 1965). Koes Ploes malah sempat dipenjara karena memainkan lagu-lagu The Beatles! Benyamin sempat merasa bingung karena kalau menyenyikan lagu-lagu Indonesia, klub-klub jadi menyepi, sedangkan kalau memainkan lagu barat ada resiko masuk penjara. Akhirnya setelah memutar otaknya yang super kreatif, Benyamin mulai menyanyikan dan menciptakan lagu-lagu khas Betawi dengan iringan musik gambang kromong. Pada tahun 1968 Benyamin memberikan lagu ‘Nonton Bioskop’ kepada artis idola bangsa jaman itu, Bing Slamet. Bing Slamet menyarankan agar Benyamin membawakan lagu itu sendiri. Setelah kejadian bersejarah tersebut, nama Benyamin S. pun meroket sebagai penyanyi khas Betawi. Cara menulis lagu yang apa adanya, kekasaran dalam lirik-liriknya, irama yang khas, dan kesentimentalan yang agak genit dan centil, merangkum ekspresi jujur, komunikatif, dan approachable yang terpancar dari dalam dirinya, dan otomatis membuat masyarakat menerima beliau dengan tangan terbuka. Lalu karena banyak juga pesan-pesan moral yang tersisip dalam lirik-lirik lagunya, Benyamin pun menjadi seseorang yang dihormati di berbagai kalangan. Selain lagu-lagu khas Betawi yang bernuansa komedi, Benyamin juga memperlihatkan kemampuan bernyanyi dan menciptakan musik-musik bernada motown yang soulful, tentunya tetap berbahasa Indonesia, seperti ‘Kompor Mleduk’ yang mirip lagu Sly & The Family Stone. Prestasinya dalam dunia entertainment Tanah Air terekam di sekitar 300 lagu gubahannya, kurang lebih 54 film layar lebar yang dibintanginya, 2 Piala Citra yang diraihnya sebagai aktor terbaik (tahun 1973 dan 1976), peranannya dalam serial TV sukses ‘Si Doel Anak Sekolahan’ di tahun-tahun terakhirnya, serta peranannya di masyarakat sebagai seorang tokoh terhormat yang selalu menghadirkan nuansa ceria di hati kita semua. Bang Ben memang super gokil! -Munir, SH: Pahlawan Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) (1965-2004) Pejuang HAM (Hak Azazi Manusia) itu sejak mahasiswa terkenal keras hati. Sejak tahun 1989 sepertinya ia tak pernah berhenti bekerja! Tiap tahunnya Munir pindah-pindah dari satu kantor LBH ke kantor YLBHI lainnya, dan semuanya untuk kepentingan masyarakat. Kemudian dia mendirikan dan menjabat Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) (1998-2001) dan Ketua Dewan Pengurus Kontras (2001). Saat menjabat Koordinator Kontras, namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Pak Harto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus (waktu itu) Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota Tim Mawar. Dia pun memperoleh The Right Livelihood Award di Swedia (2000) sebuah penghargaan spesial yang disebut sebagai Nobel alternatif. Sebelumnya, Majalah Asiaweek menobatkannya menjadi salah seorang dari 20 pemimpin politik muda Asia pada milenium baru dan Man of The Year versi majalah Ummat (1998). Ia mendapat hadiah uang dari Yayasan The Right Livelihood Award sebesar Rp 500 juta. Separuh dari hadiah itu diberikan ke Kontras. Biarpun namanya sudah ngetop, Munir tetap hidup bersahaja. Dia tinggal di rumah sederhana dan ke mana-mana naik sepeda motor. Ia pun sering mendapat ancaman. Saat membongkar kasus pembunuhan aktivis buruh Marsinah, ia pun diancam akan ‘dijadikan sosis’ oleh orang yang mengaku aparat keamanan. Begitu pula ketika dia membongkar kasus penculikan aktivis mahasiswa pada akhir kekuasaan Soeharto. Dia memang seorang pejuang HAM sejati yang gigih dan berani. Namun, sayang, Munir wafat dalam usia relatif muda, 39 tahun, ketika sedang terbang menuju Amsterdam, 7 September 2004, untuk melanjutkan S2 di universitas Utrecht. Dia diracuni dengan arsenik dan meninggal sebelum pesawat mendarat. Belum diketahui siapa yang telah meracuni Munir meskipun sudah jelas kejadian itu adalah hasil konspirasi pihak yang sangat berkuasa. Munir adalah seorang pahlawan yang kehadirannya dulu sangat penting dan berharga untuk bangsa kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

monggo dicomment