adsense

Adsense Indonesia

Kamis, 20 November 2008

how Classic can be?

What a classic style!
Banyak orang memang berpikir bahwa gaya yang klasik dipenuhi dengan segala sesuatu yang sudah berumur (tua), dated, atau bahkan tidak lagi trendi. Ada juga orang yang melihat gaya klasik sebagai gaya yang cenderung formal atau koservatif. Is Classic really about being inflexible and ancient?... Terlepas dari elemen-elemen yang terdengar sangat membosankan tersebut, sebenarnya gaya yang satu ini berpengaruh cukup besar terhadap gaya-gaya yang kita anut di zaman sekarang. Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan gaya klasik? Apakah seperti gaya busana ala British abad pertengahan; dengan jas yang berenda-renda dan celana ketat (legging)? Atau gaun besar dengan korset kecil yang sangat feminim? Apakah seperti simfoni Beethoven atau Mozart atau Chopin yang syarat penampilannya mesti diiringi Orkestra? Atau mungkin, seperti gedung dan furnitur elegant yang terbuat dari bahan mahal—termasuk emas--yang penuh lekuk dan berukir rumit? Memang tidak diragukan lagi bahwa gaya klasik mempunyai ciri khasnya tersendiri—penuh dengan pakem dan aturan, keserasian simetri, juga tentunya...berkelas!! Jika klasik berarti mengandung ciri-ciri konservatif (bahasa halus dari “kolot dan berbau feodal”), maka pertanyaannya, apakah ciri-ciri klasik seperti itu ada di dalam perlengkapan dan kelengkapan hidup kita dewasa ini? Apakah benar bahwa gaya Klasik itu sesungguhnya tidak pernah hilang? Ataukah sebenarnya, justru arti dan pengartian “klasik” sendiri yang terus ber-evolusi dan berubah menyesuaikan diri mengikuti zaman? Meskipun keberadaannya—yang berasal dari masa lalu--tidak menjelma utuh, dan mungkin keping-kepingnya telah terpenggal sebagian; mengingat arti dan tafsir terhadapnya yang telah berubah, ‘gaya Klasik’ sesungguhnya masih lekat menjadi pelengkap bagi trend atau pilihan-pilihan gaya masa kini. Jika ‘keabadian’ merupakan sufficient condition untuk mencirikan ada tidaknya ‘gaya Klasik’ karena gaya ini biasanya ditemui sebagai gaya yang berkualitas alias superior dan mempunyai nilai yang tidak mudah hilang, “timeless” atau “long lasting” maka pertanyaannya, benarkah gaya Klasik ini masih diangkat hingga saat ini? Coba kita lihat apa yang terjadi di dunia fashion, music, dan design masa kini. Fashion that is Classic Sesungguhnya gaya Klasik ini ternyata lebih flesksibel dari yang kita kira. Mengikuti gaya para Raja bukanlah lagi keseluruhan dari gaya yang sering dibilang “tua” ini. Melainkan pengaplikasian gaya Klasik itu yang lebih difokuskan, agar bisa lebih terlihat up-to-date atau trendy. “Fashion yang Klasik” sungguh berkonotasi sangat mahal. Jika pada zaman kerajaan dulu gaya ini diterapkan untuk masyarakat golongan tertentu yang berusaha agar tampil berpakaian sebaik mungkin, maka cara mereka berpakaian menganuti gaya-gaya yang Klasik. Dengan jas hitam atau tuxedo panjang dan dasi kupu-kupu yang senada. Gaun-gaun berwarna Maroon, Hijau dan Emas yang selalu mempunyai ukiran-ukiran mencolok. Konsep Klasik antara lain juga dikenal sebagai Victorian style dan selalu menjadi patokan jika ingin membawa gaya ini kembali nyata. Seperti juga kata “dandy” atau “classy” yang berarti rapi dan berkelas, hal itu juga terungkap dari aliran gaya Klasik yang bermakna dan bernuansa aristokrat dan bersejarah. Jika kita lihat dari 50 tahun terakhir, Fashion yang berbau Klasik masih digunakan sebagai esensi dari koleksi-koleksi para Designer utama. Chanel dan Christian Dior dengan potongan-potongan setelan jas dan rok, dengan warna-warna mewah dan bordiran emas agar terlihat elegant yang dulu sering dikenakan oleh First Lady Amerika Serikat Jacky Kennedy, sangat berpatokan kepada gaya Classic. Ralph Lauren dengan Polo-shirt yang sering digunakan oleh anggota-anggota kerajaan Inggris juga termasuk cara berpakaian yang Klasik. Hingga saat ini pun, style yang sudah diterapkan dari dulu masih sering kita lihat. Style yang sangat populer ini lebih sering dikenal dengan gaya Vintage. Saat ini, di dalam dunia Fashion, a Classic style lebih ditafsirkan dengan kata berkelas atau segala sesuatu yang mempunyai nilai sejarah. Mengikuti warna atau potongan baju yang awalnya dianuti bukanlah suatu patokan untuk mengkreasikan style yang Klasik. Cara berpakaian Klasik saat ini hanyalah penggabungan elemen-elemen yang bersejarah dengan potongan-potongan dan material yang lebih modern. Mix and Match adalah kunci dari penggabungan yang terkenal dengan gaya Old and New ini. Layaknya designer-designer terkemuka seperti Narciso Rodriguez (Spanyol), dan Thakoon (Thailand) yang membuat potongan-potongan baju mereka dengan pola yang sangat modern, namun masing-masing selalu mengaplikasikan sifat-sifat yang berbau Klasik dan elegan. Bercak-bercak floral dan strap-dresses yang mempunyai sifat bersejarah atau “tua”, flowy materials yang berkesan “Greek Goddess” dengan embroider yang senada mempercantik gaya Klasik masa kini. Tidak heran jika istri dari Barrack Obama (President Amerika yang terpilih), Michelle Obama, menjadi tertarik dengan design-design yang ditampilkan kedua Designer ini dan karena itu sang First Lady sering mengenakannya, terutama saat berhadapan dengan kamera. Terlihat gaya Klasik yang berevolusi dari tahun ke tahun, akan tetapi, tidak menghilangkan daya tariknya yang berkelas dan penuh sejarah. Classic Genre Musik yang sering kita dengar biasanya adalah musik yang terbaru (ter-populer) atau musik dari genre yang kita suka. Tapi semua memang ada awalnya, di mana dan kapan musik dimainkan dan didengar pertama kalinya. Jika kita inigin melihat sejarahnya, musik pertama kali didengar pada abad ke-5. Dari zaman Medieval-Renaisaance-Baroque-Classic-Romantic, hingga di zaman yang Kontemporer saat ini. Sebetulnya, menurut peneliti di Oxford University, terminologi dari “Classical Music” baru benar-benar muncul di awal abad ke-19 untuk mendeklarasikan karya-karya Johann Sebastian Bach dan Beethoven. Saat ini, terminologi dari musik yang Klasik, sudah cukup berbeda dari awalnya di abad ke-19. Memang musik-musik yang Klasik gampang kita asosiasikan dengan musik Orkestra yang diciptakan oleh Bach, Beethoven, dan Mozart. Akan tetapi, di zaman yang modern ini kita melihat musik yang Klasik lebih kepada musik yang tidak akan pernah hilang atau “long lasting”. Dengan kata lain, kita justru (dan bisa) lebih berpatokan kepada musik-musik kontemporer dibandingkan kepada asal muasalnya di zaman Medieval. Siapa yang tidak pernah mendengar bahwa The Beatles membawa musik yang Klasik? Atau lagu-lagunya The Beach Boys yang masih sering digunakan untuk medapatkan “feel” yang Vintage atau bersejarah dalam film-film? Bahkan album Thriller dari Michael Jackson pun kini termasuk ke dalam Classic-hits. Kita bisa melihat bahwa waktu juga bisa menggantikan arti dari sesuatu. Bahwa musik yang Klasik pun tidak lagi harus berarti musik-musik yang selalu diiringi oleh biola dan harpa dengan pemusik yang berjajar-jajar dan berpakaian “seragam”, tetapi lebih terhadap nilainya yang bersejarah atau “long lasting”. A Classic Design Design dari furnitur dan gedung-gedung yang Klasik masih banyak yang bisa kita lihat hingga saat ini. Gedung Parlemen dan Istana-istana di seluruh dunia rata-rata menganuti design yang Klasik. Dengan ukiran-ukiran romantis yang menceritakan sejarah, pahatan-pahatan emas dari tangan yang bernilai abadi sangat memberi kesan Royal. Namun essence dari design yang Klasik ini telah memasuki periode yang lebih modern. Dengan warna-warna yang lebih simple dan design yang relatif lebih minimalis, design-design yang Klasik ini adalah lahiran baru untuk era design masa kini tanpa menghilangkan unsur-unsur Klasik yang majestik. Gabungan dari design yang Klasik dan teknologi terkini ini menjadi lebih populer beberapa tahun terakhir. Karena style yang mengangkat tema Old and New ini bisa dipadukan secara bebas dan fleksibel. Style ini sesungguhnya menjadi bagian utama atau a must have item untuk para interior designers, karena menjadi bagian dari penggabung furnitur-furnitur lama dengan furnitur yang sifatnya kontemporer atau modern.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

monggo dicomment