
Light And Stylish common else

Light And Stylish
Bagi para penggemar skuter, brand Lambretta tentu sudah tidak asing lagi. Skuter dengan berbagai macam varian ini memang memiliki penggemar tersendiri. Tampilannya yang sangat variatif dengan keunikannya masing – masing terbukti mampu memikat hati banyak orang. Ditambah lagi dengan cukup langkanya ketersediaan skuter ini dibandingkan skuter lain “sebayanya” di pasaran, maka makin tinggi pulalah value yang dimilikinya. Tak pelak, kini Lambretta menjadi buruan bagi para kolektor maupun penggemar skuter.
“Know The Past To Know The Future”
Tag line yang digunakan sebuah EO papan atas Ibukota untuk sebuah acara annual mereka diatas sangatlah penting untuk diingat, terutama bagi generasi muda yang hidup di masa kini. Meningkatnya kualitas hidup di era ini yang mencakup semua elemen penting dalam kehidupan sehari-hari Anda, seperti edukasi, teknologi, dan kemudahan dalam mendapatkan apa-apa saja yang Anda inginkan, cenderung membuat Anda menjadi arogan terhadap kekurangan-kekurangan yang dihadapi oleh generasi pendahulu di masa lalu.
Kita semua pasti pernah menggunakan kata JaDul (Jaman Dulu) dengan konotasi melecehkan yang sarkastis. Seakan-akan semua yang tidak up-to-date itu pasti sangatlah tidak penting. Pasti ada saja diantara kita yang pernah berpikir alangkah dungu-nya si mama dan papa karena sampai sekarang masih saja bingung bila ingin mengirim e-mail, biarpun sudah di ajarkan berkali-kali! Ini biasanya menciptakan sebersit rasa tidak respect yang berakhir dengan kekurang-ajaran perilaku Anda terhadap mereka. Bayangkan, hanya karena rasa tidak sabar…
Biarpun ada juga jenius-jenius dari masa lalu yang akan senantiasa dihormati namanya oleh ‘the now generation’, tapi kita justru cenderung melupakan mereka yang keberadaannya sangat dekat dengan kita.
Padahal kalau dipikir-pikir, tanpa bantuan generasi pendahulu masa lalu Anda tak akan bisa menikmati kenyamanan hidup yang tersedia bebas sekarang ini. Tanpa mereka, Anda yang wanita mungkin masih saja dianggap lebih rendah level-nya dibandingkan para pria. Tanpa mereka, dunia kesenian bangsa mungkin hanya bisa terbatas dengan kerajinan tangan tradisional saja. Contoh yang paling jelas-jelasan menunjukkan betapa pentingnya generasi pendahulu untuk kehidupan kita di masa kini adalah: tanpa mereka, kita tidak akan ada.
Sekarang tibalah saatnya bagi generasi kita, bersamaan dengan para generasi penerus, untuk mulai secara drastis merubah sikap negatif yang sudah terlalu sering kita unjukkan ketika berhadapan dengan mereka yang berasal dari generasi masa lalu. Anda memang mungkin jauh lebih pintar, lebih sehat, tinggi, fashionable, fast, sophisticated, open minded, dan jauh lebih bebas berekspresi.
Namun siapakah yang telah berjuang sedemikian rupa sehingga Anda bisa berada dalam keadaan seperti itu?
Berikut ini adalah tokoh-tokoh legendaris Indonesia, yang namanya patut ditanam dalam-dalam di hati dan pikiran kita semua, sampai ke generasi penerus, dan seterusnya… dan seterusnya…
-Dr. Mohammad Hatta: Proklamator Kemerdekaan, Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, dan Bapak Koperasi Indonesia (1902-1980)
Tidak semua politikus negara Indonesia berhidung belang. Bung Hatta telah membuktikan hal ini selama masa kedudukannya di dunia politik masa lalu. Selain kemampuannya sebagai politikus, Bung Hatta juga dikenal lewat tulisan-tulisan beliau yang mengagumkan. Pada tanggal 22 Maret 1928, Bung Hatta mengemukakan pidato mengagumkan di pengadilan Den Haag, Holland, yang kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan nama ‘Indonesia Vrij’ (kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai ‘Indonesia Merdeka’). Bung Hatta sempat dibuang di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua). Disana, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat kabar ‘Pemandangan’. Honorariumnya cukup untuk biaya hidup dan dia dapat pula membantu kawan-kawannya. Hatta juga memberikan pelajaran kepada kawan-kawannya di pembuangan mengenai ilmu ekonomi, sejarah, dan filsafat. Selama masa pendudukan Jepang, Hatta tidak banyak bicara. Namun pidato yang diucapkan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada tanggaI 8 Desember 1942 menggemparkan banyak kalangan. “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali." Wow…
Tangal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta lalu beliau diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama. Bung Hatta tetap aktif memberikan ceramah di berbagai lembaga pendidikan tinggi, tetap menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi, juga aktif membimbing gerakan koperasi untuk melaksanakan cita-cita dalam konsepsi ekonominya. Karena besamya aktivitas Bung Hatta dalam gerakan koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 dia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung. Sesudah Bung Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI, ia memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam ilmu hukum dari Universitas Gajah Mada di Yoyakarta, juga, beberapa gelar akademis dari berbagai perguruan tinggi. Universitas Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa di bidang ilmu hukum. Pada tahun 1960 Bung Hatta menulis "Demokrasi Kita" dalam majalah ‘Pandji Masyarakat’. Sebuah tulisan yang terkenal karena menonjolkan pandangan dan pikiran Bung Hatta mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia waktu itu.
Dalam masa pemerintahan Orde Baru, Bung Hatta lebih merupakan negarawan sesepuh bagi bangsanya daripada seorang politikus. Pada tanggal 15 Agustus 1972, Presiden Soeharto menyampaikan anugerah negara berupa Tanda Kehormatan tertinggi "Bintang Republik Indonesia Kelas I".
Bung Hatta wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Dr Tjipto Mangunkusumo, Jakarta, pada usia 77 tahun.
-Ibu Kasur: Tokoh Pendidikan Anak dan Pencipta Lagu Anak-Anak (1926-2002)
Ibu Sandiah adalah nama asli Ibu Kasur. Bersama suaminya, Pak Kasur (panggilan Kasur berasal dari kata ‘Kak Sur’, sebutan akrab Pak Kasur yang bernama asli Suryono) beliau mendedikasikan hidupnya pada kesejahteraan anak-anak. Sebagai pencipta lagu anak-anak, nama Bu Kasur memang tidak asing lagi. Lagu-lagu ciptaanya banyak yang menjadi lagu legendaris sepanjang masa, antara lain ‘Sayang Semuanya’, ‘Selamat Pagi’, ‘Tok Tok Tok’, ‘Buah Apa Itu’, dan lain-lain. Sejak 1962 Bu Kasur mulai dikenal luas oleh masyarakat terutama anak-anak ketika membawakan acara ‘Taman Indria’, ‘Arena Anak-Anak’, dan ‘Mengenal Tanah Air’ di TVRI. Selain mencipta lagu dan tampil di berbagai panggung acara televisi dan siaran radio, ia juga mengelola lima Taman Kanak-kanak ‘Mini’ yang salah satunya berlokasi di kawasan Cikini (sekaligus rumah tinggal Bu Kasur). Sudah banyak alumninya yang sudah menjadi orang besar. Diantaranya Presiden Megawati, Guruh, dan Ateng (pelawak). Belajar sambil bermain, bermain sambil belajar. Itulah kata kunci yang melandasi pola pikir dan pola tindak yang senantiasa dihayati dan dilaksanakan. Lagu ‘Sayang Semua’, misalnya, mengandung unsur pembelajaran sekaligus pendidikan meski sederhana. Lagu itu lahir karena beliau ingin mengajar anak-anak mengenali dan menanamkan rasa cinta kepada anggota keluarga, sambil memperkenalkan angka-angka. Sederhana lagunya, sederhana syairnya. Sampai-sampai Bu Kasur berusaha sebisa mungkin menghindari pemakaian huruf ‘r’ pada syair-syair lagunya karena huruf 'r' itu termasuk huruf yang relatif sulit di lidah anak-anak.
Atas jasanya di dunia pendidikan anak-anak, Ibu Kasur pernah menerima sejumlah penghargaan, antara lain Bintang Budaya Para Dharma pada tahun 1992, penghargaan dari Presiden dalam rangka Hari Anak Nasional (1988), serta Centro Culture Italiano Premio Adelaide Ristori Anno II dari Pemerintah Italia pada tahun 1976. Terakhir Bu Kasur juga mengantungi penghargaan sebagai pembawa acara anak-anak legendaris di televisi.
Bu Kasur akan selalu diingat sebagai sosok yang penyayang, sederhana, tapi juga fun dan sangat pintar mengajar! FREE! loves Bu Kasur forever!
-Jack Lesmana: Maestro Jazz Indonesia (1930-1988)
Jack Lesmana lahir di keluarga pencinta seni. Ayah Jack adalah penggemar biola, sementara ibunya pernah menjadi penyanyi dan penari dalam kelompok opera Miss Riboet. Pada usia 12 tahun, Jack yang telah pandai bermain gitar bermain dalam sebuah kelompok, Dixieland. Jack pun akhirnya jatuh cinta dengan genre musik jazz.
Seumur hidupnya Jack selalu punya gagasan kreatif. Ia pernah mengasuh acara TVRI ‘Nada dan Improvisasi’ untuk memperkenalkan jazz secara mainstream. Pada era 1970-an, ketika gairah jazz pribumi menurun, ia mengundang musisi jazz masuk ke Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Ia mengajak pecinta jazz kembali dihipnotis oleh jazz seperti pada era 1960-an ketika ketenaran Jack dan kawan-kawannya (musisi jazz Buby Chen, Maryono, Kibound Maulana, dan Benny Mustafa), yang tergabung dalam The Indonesia All Stars, meluas ke luar negeri.
Lama kelamaan jazz kembali memikat rakyat di Tanah Air. Ini adalah prestasi Jack yang tidak pernah dilakukan musisi lain. Jack Lesmana termasuk ‘gaul’. Ia tidak pernah segan mengundang para musisi jazz, dari dalam maupun luar negeri, untuk singgah di rumahnya berdiskusi tentang jazz. Ia menjadi ‘guru’ yang asik dan berprinsip dalam bermusik, serta musisi yang punya komitmen tinggi dalam musik jazz. Ia menerima sejumlah penghargaan yang menunjukkan bahwa ia tidak hanya sekedar musisi yang baik tetapi juga berperan besar dalam mengembangkan jazz pribumi di masyarakat. Karena jasanya, jazz tidak lagi menjadi sesuatu yang asing di negeri ini. Pada 1979 Jack Lesmana sekeluarga hijrah ke Australia. Ia mengajar di sebuah konservatorium musik disana. Anaknya, Indra yang mendapat beasiswa dari Jazz Department Australia, semakin mantap sebagai pianis muda berbakat. Ternyata selain hebat menggurui masyarakat jazz, Jack juga seorang ayah yang berhasil mewariskan bakat musik pada anaknya!
Ketika Jack Lesmana meninggal karena diabetes, Indonesia kehilangan seorang musisi sejati yang mempertaruhkan seluruh hidupnya pada musik tanpa kompromi. Ia memang bukan komponis yang punya karya besar dalam musik, tetapi ia telah membuka pintu bagi musisi-musisi muda untuk berkarya lebih baik. Sekarang Indra Lesmana adalah salah satu musisi terpopuler di Tanah Air sedangkan anak perempuan Jack,Mira Lesmana, kini adalah salah satu produser film yang sukses.
-Pramoedya Ananta Toer: Sastrawan, Kritikus Sosial, dan salah satu orang Asia paling berpengaruh menurut Time Magazine (1925-2006)
Pramoedya Ananta Toer (PAT) adalah seorang penulis novel, cerpen, essays, polemics, dan sejarah negara serta rakyatnya. Kedahsyatannya meluas ke seluruh dunia. PAT termasuk salah satu tokoh yang ‘berani’ dalam pembahasan mengenai politik bangsa, sehingga karya-karyanya sempat dimusnahkan dan disensor di Tanah Air sebelum masa reformasi. Karena keberaniannya menentang system pemerintahan Presiden Soekarno dan Presiden Suharto dalam era Orde Baru, PAT diberikan hukuman penjara dan akhirnya ‘dibuang’ ke Pulau Buru sebagai tawanan politik.
PAT adalah seseorang dengan otak brilliant yang sangat sederhana. Ini terlihat ketika beliau mengganti nama belakangnya yang tadinya Mastoer menjadi Toer saja, karena Mastoer terdengar terlalu aristokratis. Dia dibesarkan di Blora, Jawa Tengah, dan pengalamannya dapat dibaca dalam kumpulan cerpen semi-autobiografisnya yang bertajuk ‘Cerita Dari Blora’. Lama kelamaan tulisannya cenderung melipir ke arah politik. Setelah meluncurkan buku berjudul ‘Korupsi’, mengenai pekerja di pemerintahan yang jatuh dalam perangkap korupsi, terjadilah ketegangan antara dirinya dengan Presiden Soekarno. Tahun 50-an beliau menjadi dosen sejarah literatur dan mulai mencari bahan ajaran dari materi-materi yang tidak diacuhkan oleh institusi edukasi negara. Rasa simpati PAT terhadap rakyat Cina Indonesia, yang mengalami masa suram di era post-kolonial, membuahkan sebuah kritik terhadap pemerintah yang dianggapnya terlalu pro-Jawa dan tidak perduli dengan daerah dan rakyat kepulauan Indonesia lainnya. Akibatnya PAT dijatuhkan hukuman penjara selama 9 bulan.
Pada tahun 1965 terjadilah peristiwa Gerakan 30 S/PKI yang dikabarkan didalangi oleh Partai Komunis. Inilah yang membuat PAT,yang dianggap komunis, terbuang ke Pulau Buru. Selama disana, PAT dilarang menulis, bahkan tak boleh memiliki pensil! Sejak itu pula karya-karyanya dilarang di Indonesia. Tapi PAT tidak putus asa. Dengan bantuan rekan tawanan Pulau Buru (PAT mendikte, mereka membantu menuliskan), PAT berhasil menghasilkan karya masterpiece-nya, yaitu seri 4 buah novel semi-fiksional (‘Bumi Manusia’, ‘Anak Semua Bangsa’, ‘Jejak Langkah’, dan ‘Rumah Kaca’) yang dikenal sebagai ‘The Buru Quartet’. Karyanya ini akhirnya bisa tersebarluas di seluruh dunia dan di terjemahkan ke berbagai bahasa. PAT dibebaskan pada tahun 1979, tapi harus tetap menjalani hukuman house arrest sampai tahun 1992. Selama masa tahanannya di Buru dan di rumahnya, PAT menjadi ‘a cause célèbre’ untuk kebebasan dan human rights.
Biarpun karya-karyanya terlarang sebelum era reformasi, rakyat Indonesia berhasil memiliki copy-an dari kiriman mereka yang tinggal di luar negeri, sehingga nama PAT tak pernah terlupakan. Berbagai penghargaan telah diberikan untuknya dan beliau pernah dibicarakan sebagai salah satu kandidat terkuat untuk dianugerahkan Nobel Prize in Literature di Southeast Asia. That’s hot.
-S. Sudjodjono: Bapak Seni Lukis Modern (1913-1985)
Sejak usia empat tahun Pak Djon menjadi anak angkat bapak Yudhokusumo, yang kemudian membawanya ke Batavia tahun 1925. Sudjojono yang berbakat melukis dan banyak membaca tentang seni lukis modern Eropa akhirnya lebih memilih jalan hidup sebagai pelukis. Pada tahun 1937, dia pun ikut pameran bersama pelukis Eropa di Kunstkring Jakarya, Jakarta. Keikutsertaannya pada pameran itu, sebagai awal yang memopulerkan namanya sebagai pelukis.
Bersama sejumlah pelukis, ia mendirikan Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia) pada tahun 1937. Ini dianggap sebagai awal seni rupa modern di Indonesia. Selain piawai melukis, Pak Djon juga banyak menulis dan berceramah tentang pengembangan seni lukis modern. Dia menganjurkan dan menyebarkan gagasan, pandangan dan sikap tentang lukisan, pelukis dan peranan seni dalam masyarakat dalam banyak tulisannya. Maka, komunitas pelukis pun memberinya predikat: Bapak Seni Lukis Indonesia Baru.
Lukisannya punya ciri khas kasar, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas. Objek lukisannya lebih menonjol pada pemandangan alam, sosok manusia, serta suasana. Pemilihan objek itu lebih didasari hubungan batin, cinta, dan simpati sehingga tampak bersahaja. Lukisannya yang monumental antara lain berjudul: ‘Di Depan Kelambu Terbuka’, ‘Cap Go Meh’, Pengungsi’ dan ‘Seko’. Pada dasarnya ia seorang nasionalis yang menunjukkan pribadinya melalui warna-warna dan pilihan subjek. Sebagai kritikus seni rupa, dia sering mengecam Basoeki Abdullah sebagai tidak nasionalistis, karena melukis perempuan cantik dan pemandangan alam melulu. Sehingga Pak Djon dan Basuki dianggap sebagai musuh bebuyutan, bagai air dan api, sejak 1935. Dalam komunitas seni-budaya, Pak Djon masuk Lekra, lalu masuk PKI. Namun pada 1957, ia membelot karena perbedaan pendapat mengenai agama. Sejak 1958 ia hidup sepenuhnya dari lukisan. Dia juga tidak sungkan menerima pesanan, sebagai suatu cara profesional dan halal untuk mendapat uang. Pesanan itu, juga sekaligus merupakan kesempatan latihan membuat bentuk, warna dan komposisi.
Ada beberapa karya pesanan yang dibanggakannya. Di antaranya, pesanan pesanan Gubernur DKI, yang melukiskan adegan pertempuran Sultan Agung melawan Jan Pieterszoon Coen, 1973. Lukisan ini berukuran 300310 meter, dan dipajang di Museum DKI Fatahillah. Secara profesional, penerima Anugerah Seni tahun 1970 ini sangat menikmati kepopulerannya sebagai seorang pelukis ternama. Karya-karyanya diminati banyak orang dengan harga yang sangat tinggi di biro-biro lelang luar negeri. Apalagi setelah dia meninggal. Karya-karyanya masih dipamerkan di beberapa tempat, antara lain di: Festival of Indonesia (Amerika, 1990-1992); Gate Foundation (Amsterdam, Holland, 1993); Singapore Art Museum (1994); Center for Strategic and International Studies (Jakarta, Indonesia, 1996); ASEAN Masterworks (Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998). Tanpanya, mungkin sampai sekarang yang ada di Indonesia hanyalah lukisan wanita cantik dan pemandangan saja…
- Koes Ploes: Rock ‘n Rollers Tanah Air yang tak ada matinya
“News Flash: Koes Bersaudara harus masuk bui karena nekad membawakan lagu ‘I Saw Her Standing There’ dalam sebuah acara. Dalam acara itu, sebuah keributan terjadi, atap di tempat konser dilempari batu oleh orang-orang yang katanya pendukung revolusi Sukarno yang anti kapitalis”.
Whatever…
Untungnya hal ini tidak berlangsung lama karena Koes Ploes pun akhirnya berhasil membuat rakyat Indonesia jatuh cinta pada rock ‘ roll. Yeah!
Di masa-masa kebangkitan rock Indonesia ini, Koes Plus merekam dan merilis Deg Deg Plas (1969). Album ini tidak terlalu sukses penjualannya, karena masyarakat saat itu belum bisa menerima lagu-lagu mereka. Beberapa lagu dalam album itu seperti ‘Manis dan Sayang’, ‘Derita’, ‘Awan Hitam’, ‘Kembali Ke Jakarta’, ‘Cintamu Telah Berlalu’, adalah lagi-lagu yang kemudian menjadi populer hingga saat ini. Semua ini bermula saat seorang pemuda bernama Koestono Koeswoyo, menjadi tertarik pada musik rock ‘n roll yang sedang menggila di barat. Tony Koeswoyo, nama panggungnya, lalu mengajak saudara-saudaranya yang laki-laki untuk membentuk band. Sebelum itu Tony pernah bermain band bersama kawan-kawannya, Teruna Moeda, yang salah satu personilnya adalah Sophan Sophian (alm.).
Tapi Tony lebih fokus dengan band keluarganya yang kerap mendapat job menggung. Bayarannya mungkin tidak seberapa, namun mereka jelas senang bisa manggung. Mereka sering mengisi acara pesta dimana mereka pasti bisa makan gratis dalam pesta remaja itu.
Mereka juga menyambangi sebuah perusahaan rekaman. Bersama perusahaan rekaman itu, the Koeswoyos membuktikan diri sebagai musisi rock ‘n roll handal. Nama besar yang terlibat dalam rekaman itu adalah Jack Lesmana. Tony terus melangkah bersama band-nya, yang berubah nama dari Koes Bersaudara menjadi Koes Ploes. Mereka adalah: Tony, kedua adiknya, Yon dan Yok, serta Murry, seorang anggota baru. Band ini berjaya di tahun ’70-an dan menjadi legenda di blantika musik Indonesia. Musik yang diusung Tony Koeswoyo bersama band dan saudaranya itu menjadi pelopor perkembangan musik pop setelah kejatuhan Soekarno. Perjuangan Koes Ploes yang kerap mengusung lagu-lagu The Beatles diawal karir musik adalah usaha berani yang membuat mereka harus di penjara in the name of rock ‘n roll.
Sampai sekarang lagu-lagu mereka masih senantiasa nyaman didengar dan sering diputar. Hebat.
-Benyamin S.: Seniman Multitalenta (1939-1995):
Masa kecilnya dihabiskan di daerah Kemayoran dimana dirinya biasa dipanggil si Gentong oleh kedelapan saudaranya. Bakat komedi-nya terlihat sejak mungil,lalu mulai mencuat ketika beliau berumur lima tahun sewaktu mulai rajin tampil di panggung setiap ada perayaan di RT-nya. Bakat seninya semakin menjadi-jadi ketika memasuki SMA Taman Madya. Disana beliau bertemu dengan Ateng dan sering menghibur teman-teman mereka dengan permainan gitarnya. Menjelang tahun ’60-an, bersama dengan dua orang saudaranya, Bang Saidi dan Kaji, serta beberapa orang teman mereka, Benyamin membentuk band yang memainkan lagu-lagu hits barat seperti ‘Blue Moon’, ‘My Way’, dan sebagainya. Namun jaman itu adalah masa-masa dimana Presiden Sukarno mengeluarkan undang-undang super nasionalis yang melarang dimainkannya lagu-lagu barat di Tanah Air (pada tahun 1965). Koes Ploes malah sempat dipenjara karena memainkan lagu-lagu The Beatles! Benyamin sempat merasa bingung karena kalau menyenyikan lagu-lagu Indonesia, klub-klub jadi menyepi, sedangkan kalau memainkan lagu barat ada resiko masuk penjara. Akhirnya setelah memutar otaknya yang super kreatif, Benyamin mulai menyanyikan dan menciptakan lagu-lagu khas Betawi dengan iringan musik gambang kromong. Pada tahun 1968 Benyamin memberikan lagu ‘Nonton Bioskop’ kepada artis idola bangsa jaman itu, Bing Slamet. Bing Slamet menyarankan agar Benyamin membawakan lagu itu sendiri. Setelah kejadian bersejarah tersebut, nama Benyamin S. pun meroket sebagai penyanyi khas Betawi. Cara menulis lagu yang apa adanya, kekasaran dalam lirik-liriknya, irama yang khas, dan kesentimentalan yang agak genit dan centil, merangkum ekspresi jujur, komunikatif, dan approachable yang terpancar dari dalam dirinya, dan otomatis membuat masyarakat menerima beliau dengan tangan terbuka. Lalu karena banyak juga pesan-pesan moral yang tersisip dalam lirik-lirik lagunya, Benyamin pun menjadi seseorang yang dihormati di berbagai kalangan. Selain lagu-lagu khas Betawi yang bernuansa komedi, Benyamin juga memperlihatkan kemampuan bernyanyi dan menciptakan musik-musik bernada motown yang soulful, tentunya tetap berbahasa Indonesia, seperti ‘Kompor Mleduk’ yang mirip lagu Sly & The Family Stone. Prestasinya dalam dunia entertainment Tanah Air terekam di sekitar 300 lagu gubahannya, kurang lebih 54 film layar lebar yang dibintanginya, 2 Piala Citra yang diraihnya sebagai aktor terbaik (tahun 1973 dan 1976), peranannya dalam serial TV sukses ‘Si Doel Anak Sekolahan’ di tahun-tahun terakhirnya, serta peranannya di masyarakat sebagai seorang tokoh terhormat yang selalu menghadirkan nuansa ceria di hati kita semua. Bang Ben memang super gokil!
-Munir, SH: Pahlawan Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) (1965-2004)
Pejuang HAM (Hak Azazi Manusia) itu sejak mahasiswa terkenal keras hati. Sejak tahun 1989 sepertinya ia tak pernah berhenti bekerja! Tiap tahunnya Munir pindah-pindah dari satu kantor LBH ke kantor YLBHI lainnya, dan semuanya untuk kepentingan masyarakat. Kemudian dia mendirikan dan menjabat Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) (1998-2001) dan Ketua Dewan Pengurus Kontras (2001). Saat menjabat Koordinator Kontras, namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Pak Harto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus (waktu itu) Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota Tim Mawar. Dia pun memperoleh The Right Livelihood Award di Swedia (2000) sebuah penghargaan spesial yang disebut sebagai Nobel alternatif. Sebelumnya, Majalah Asiaweek menobatkannya menjadi salah seorang dari 20 pemimpin politik muda Asia pada milenium baru dan Man of The Year versi majalah Ummat (1998). Ia mendapat hadiah uang dari Yayasan The Right Livelihood Award sebesar Rp 500 juta. Separuh dari hadiah itu diberikan ke Kontras. Biarpun namanya sudah ngetop, Munir tetap hidup bersahaja. Dia tinggal di rumah sederhana dan ke mana-mana naik sepeda motor. Ia pun sering mendapat ancaman. Saat membongkar kasus pembunuhan aktivis buruh Marsinah, ia pun diancam akan ‘dijadikan sosis’ oleh orang yang mengaku aparat keamanan. Begitu pula ketika dia membongkar kasus penculikan aktivis mahasiswa pada akhir kekuasaan Soeharto.
Dia memang seorang pejuang HAM sejati yang gigih dan berani.
Namun, sayang, Munir wafat dalam usia relatif muda, 39 tahun, ketika sedang terbang menuju Amsterdam, 7 September 2004, untuk melanjutkan S2 di universitas Utrecht. Dia diracuni dengan arsenik dan meninggal sebelum pesawat mendarat. Belum diketahui siapa yang telah meracuni Munir meskipun sudah jelas kejadian itu adalah hasil konspirasi pihak yang sangat berkuasa. Munir adalah seorang pahlawan yang kehadirannya dulu sangat penting dan berharga untuk bangsa kita.
“A FREE! FILM FREAK GUIDE ON MOVIE GENRES (And More!)”
Sound... Camera... Action!
Film adalah sebuah kebudayaan yang diciptakan oleh kultur-kultur spesifik manusia, dimana pada akhirnya mencerminkan kebudayaan tersebut, lalu kemudian mempengaruhinya. Secara teknis sebuah film dihasilkan dengan cara merekam gambar-gambar yang tersedia di dunia ini menggunakan sebuah camera, atau dengan cara membuat gambar-gambar tersebut menggunakan teknik animasi atau special effects. Dilihat dari proses-proses kreatif yang dibutuhkan dalam produksinya, film adalah salah satu bentuk kesenian yang paling penting dalam kehidupan manusia di dunia modern. Film juga bisa dilihat sebagai sumber hiburan yang populer, serta sebagai metode yang ampuh untuk memberikan ajaran (edukasi) untuk masyarakat. Elemen-elemen visual sinematografi memberikan kekuatan kepada sebuah film dalam berkomunikasi dan menggugah emosi manusia. Sekarang, tinggal pilih saja perasaan-perasaan apa yang ingin Anda bangkitkan dengan pertolongan sebuah film. Apakah itu cinta, suspense, geli, atau ngeri, tergantung dari genre film yang ada di menu Anda malam ini. Berikut ini adalah berbagai macam genre film yang telah diakui keberadaannya di dunia perfilman internasional, lengkap dengan contoh film-film yang paling jelas menganuti alirannya...
* ACTION:
Die Hard (1988) :
Director: John McTiernan
Starring: Bruce Willis, Alan Rickman,
Frantic (1988)
Dir.: Roman Polanski
Starr.: Harrison Ford, Emmanuelle Seigner
City of God / Cidade De Deus (2002)
Dir.: Fernando Meirelles
Starr.: Douglas Silva, Phellipe Haagensen
Children Of Men (2006) :
Dir.: Alfonso Cuaron
Starr.: Clive Owen, Michael Caine, Chiwetel Ojiofor, Julianne Moore
Kill Bill Vol 1 & 2 (2003-2004)
Dir.: Quentin Tarantino
Starr.: Uma Thurman, Lucy Liu, Vivica A. Fox, David Carradine, Daryl Hannah
Action adalah genre yang selalu memperlihatkan kekerasan, kejar-kejaran, dan kriminalitas. Action mempunyai beberapa sub genre yaitu action comedy (seperti film 'Rush Hour'), action suspense (seperti 'Frantic'), action historical (seperti 'City of Gods'), dsb. Di Indonesia, yang paling mendekati film action mungkin adalah film-film laga jaman dulu. '9 Naga' dan 'Mengejar Matahari' oleh Rudy Sudjarwo juga bisa masuk dalam kategori action drama.
* ADVENTURE:
Indiana Jones and The Last Crusade (1996) :
Dir.: Steven Spielberg
Starr.: Harrison Ford, Sean Connery
Pirates of The Carribean: Dead Man's Chest (2006)
Dir.: Gore Verbinski
Starr.: Johnny Depp, Orlando Bloom, Keira Knightley
The Goonies (1985) :
Dir.: Richard Donner
Starr.: Sean Astin, Corey Feldman, Jonathan Ke Quan
National Treasure (2004) :
Dir.: Jon Turteltaub
Starr.: Nicholas Cage, Diane Kruger
Romancing The Stone (1984) :
Dir.: Robert Zemeckis
Starr.: Michael Douglas, Katherine Turner, Danny DeVito
Film adventure sangat populer di tahun '80 dan '90-an. Ada beberapa yang untuk anak-anak, seperti 'The Goonies'. 'National Treasure' adalah contoh baik yang menunjukkan film adventure modern. Pada era ini, sepertinya film adventure mulai berkembang kembali kalau dilihat dari munculnya seri 'Pirates of The Carribean', 'Narnia', dan 'Golden Compass'. Apalagi dengan kembalinya 'Indiana Jones' ke tengah-tengah kita! Film Indonesia yang mencoba mengikuti genre ini adalah 'Ekspedisi Madewa'.
• BIOPIC (Biography Pictures):
1. Musical:
- Walk The Line (2005) (Johnny Cash) :
Dir.: James Mangold
Starr.: Joaquin Phoenix, Reese Witherspoon
- La Vie En Rose (2007) (Edith Piaf):
Dir.: Olivier Dahan
Starr.: Marion Cotillard, Gerard Depardieu
- Amadeus (1984) (Mozart):
Dir.: Milos Forman
Starr.: Tom Hulce, F. Murray Abraham
- Sid and Nancy (1986) (Sid Vicious):
Dir.: Alex Cox
Starr.: Gary Oldman, Chloe Webb
- The Doors (1991) (Jim Morrisson):
Dir.: Oliver Stone
Starr.: Val Kilmer, Meg Ryan
2. Political:
- JFK (1991) :
Dir.: Oliver Stone
Starr.: Kevin Costner, Kevin Bacon, Gary Oldman
- Gandhi (1982) :
Dir.: Richard Attenborough
Starr.: Ben Kingsley, Candice Bergen
- All the President's Men (1976) :
Dir.: Alan J. Pakula
Starr.: Robert Redford, Dustin Hoffman
- The Last Emperror (1987) :
Dir.: Bernardo Bertolucci
Starr.: John Lone, Peter O'Toole, Joan Chen
- The Last King of Scotland (2006) :
Dir.: Kevin McDonald
Starr.: Forest Whitaker, James McAvoy
3. Art:
- Basquiat (1996) :
Dir.: Julian Schnabel
Starr.: Jeffrey Wright, David Bowie
- Chaplin (1992) :
Dir.: Richard Attenborough
Starr.: Robert Downey Jr., Geraldine Chaplin
- Frida (2002) :
Dir.: Julie Taymor
Starr.: Salma Hayek, Alfred Molina
- Capote (2005) :
Dir.: Bennett Miller
Starr.: Phillip Seymour Hoffman, Catherine Keener
- Ed Wood (1994) :
Dir.: Tim Burton
Starr.: Johnny Depp, Martin Landau, Patricia Arquette
4. Crime:
- The Untouchables (1987) :
Dir.: Brian De Palma
Starr.: Kevin Costner, Sean Connery, Robert De Niro
- Catch Me If You Can (2002) :
Dir.: Steven Spielberg
Starr.: Leonardo DiCaprio, Tom Hanks
- Blow (2001) :
Dir.: Ted Demme
Starr.: Johnny Depp, Penelope Cruz
- Casino (1995) :
Dir.: Martin Scorsese
Starr.: Robert DeNiro, Joe Pesci, Sharon Stone
- Bonnie and Clyde (1967) :
Dir.: Arthur Penn
Starr.: Warren Beatty, Faye Dunaway
5. True Stories:
- Boys Don't Cry (1999) :
Dir.: Kimberly Peirce
Starr.: Hillary Swank, Chloe Sevigny
- Erin Brockovich (2000) :
Dir.: Steven Soderbergh
Starr.: Julia Roberts, Albert Finney
- The Elephant Man (1980) :
Dir.: David Lynch
Starr.: Anthony Hopkins, John Hurt
- Born on The Fourth of July (1989) :
Dir.: Oliver Stone
Starr.: Tom Cruise, Kyra Sedgwick
- Heavenly Creatures (1994) :
Dir,: Peter Jackson
Starr.: Kate Winslet, Melanie Lynskey
Genre film biopic memang sangat sering dijadikan konsep sebuah film karena memang sudah terbukti bahwa kehidupan nyata itu sama gokilnya dengan cerita-cerita film. Mungkin cerita yang sudah siap lebih mudah untuk dikembangkan dalam film? Yang pasti, daftar film biopic yang telah beredar di seluruh dunia jauh lebih panjang dari artikel ini. Tidak semua biopic bercerita mengenai seluruh kehidupan seorang tokoh, seperti 'The Last Emperor'. Namun banyak juga biopic yang hanya menceritakan sebagian kecil yang terpenting dari kehidupan seorang tokoh, seperti 'The Untouchables', atau kejadian yang terjadi dalam kehidupan orang tersebut, seperti cerita tentang pembongkaran kasus Nixon di 'All The President's Men'.
Biopic tanah Air yang paling terkenal adalah 'Cut Nyak Dien', 'G. 30 S/PKI', dan 'Gie'. Mungkin sudah waktunya ada yang ingin buat film tentang Benyamin S.
• BLACK COMEDY:
• Pulp Fiction (1994) :
Dir.: Quentin Tarantino
Starr.: John Travolta, Uma Thurman, Bruce Willis
• Dr. Strangelove or: How I Learned to Stop Worrying and Love The Bomb (1964) :
Dir.: Stanley Kubrick
Starr.: Peter Sellers, George C. Scott, James Earls Jones
• Fight Club (1999) :
Dir.: David Fincher
Starr.: Edward Norton, Brad Pitt, Helena Bonham Carter
• Fargo (1996) :
Dir.: Joel & Ehan Coen
Starr.: Frances McDormand, William H. Macy, Steve Buscemi
• Trainspotting (1996) :
Dir.: Danny Boyle
Starr.: Ewan McGregor, Johnny Lee Miller, Robert Carlyle
Black comedy biasanya adalah sebuah satir yang bernuansa gelap, sinis, dan sedikit kejam. Namun tetap saja kita pasti tertawa bila menonton film-film kategori ini. Di 'Pulp Fiction' kita diberikan kejadian-kejadian absurd yang unik, ditambah kekerasan yang sangat seram. Itulah film Black Comedy.
• COMEDY:
Superbad (2007) :
Dir.: Greg Mottola
Starr.: Jonah Hill, Michael Cera, Christopher Mintz-Plasse
Ace Ventura: When Nature Calls (1995) :
Dir.: Steve Oedekerk
Starr.: Jim Carey
The Wedding Singer (1998) :
Dir.: Frank Coraci
Starr.: Adam Sandler, Drew Barrymore
The Full Monty (1997) :
Dir.: Peter Cattaneo
Starr.: Robert Carlyle, Mark Addy
Zoolander (2001) :
Dir.: Ben Stiller
Starr.: Ben Stiller, Owen Wilson
Komedi adalah salah satu genre paling dicintai oleh semua orang. Jenis komedi juga termasuk banyak (bisa Anda lihat di artikel ini) jadi memang luas sekali. Di dalam negeri sendiri, jenis komedi yang paling disukai adalah jenis slapstick, yang sangat mudah dicerna, selalu garing, dan sangat fisikal. Contohnya di dalam negeri adalah seri film trio 'Warkop'.
• CRIME:
• Natural Born Killers (1994) :
Dir.: Oliver Stone
Starr.: Woody Harrelson, Juliette Lewis
• True Romance (1993) :
Dir.: Tony Scott
Starr.: Christian Slater, Patricia Arquette
• A History of Violance (2005) :
Dir.: David Cronenberg
Starr.: Viggo Mortensen, Ed Harris
• A Clockwork Orange (1971) :
Dir.: Stanley Kubrick
Starr.: Malcolm McDowell
• We Own The Night (2007) :
Dir.: James Gray
Starr.: Joaquin Phoenix, Mark Wahlberg
Film-film yang bernaung dibawah genre ini biasanya juga bisa disebut action thrillers. Sudah tentu akan diperlihatkan sebuah kriminalitas dalam plot ceritanya, dan biasanya genre ini juga memperlihatkan image-image menggangu yang kadang terlalu riil.
• CHRISTMAS FILM:
• Home Alone (1990) :
Dir.: Chris Columbus
Starr.: Macauly Culkin, Joe Pesci
• It's A Wonderful Life (1946)
Dir.: Frank Capra
Starr. James Steward, Donna Reid
• The Family Stone (2005) :
Dir.: Thomas Bezucha
Starr.: Dianne Keaton, Sarah Jessica Parker
• Bad Santa (2003) :
Dir.: Terry Zwigoff
Starr.: Billy Bob Thornton, Bernie Mac
• The Holiday (2006) :
Dir.: Nancy Meyers
Starr.: Cameron Diaz, Kate Winslet
Sepertinya akan agak susah untuk membuat film bertema hari Natal disini, namun kita akan tetap bisa mendapatkannya dari Hollywood, karena film-film Natal sangatlah laku disana. Seperti adventure, genre ini juga ada yang khusus untuk anak-anak.
• (POP) CULTURE AWARE FILMS:
• Hackers (1995) :
Dir.: Iain Softley
Starr.: Jonny Lee Miller, Angelina Jolie
• Groove (2000) :
Dir.: Greg Harrison
Starr.: Mackenzie Firgens, Denny Kirkwood
• Singles (1992) :
Dir.: Cameron Crowe
Starr.: Campbell Scott, Matt Dillon
• Clueless (1995) :
Dir.: Amy Heckerling
Starr.: Alicia Silverstone, Paul Rudd
• The Fast and The Furious: Tokyo Drift (2006) :
Dir.: Justin Lin
Starr.: Lucas Black, Bow Wow, Sung Kang
Film-film Indonesia jaman dahulu, seperti 'Catatan si Boy', 'Lupus', bisa dibilang mengikuti budaya pop masanya. Begitu pula film-film sekarang seperti 'Cinta, Realita, dan Rock'n' Roll. Film-film genre ini biasanya dibuat sewaktu kultur yang diperlihatkan di dalam fim juga terasa di kehidupan sehari-hari. 'Groove' dibuat semasa rave-rave underground sedang terjadi di mana-mana, lalu 'Hackers' juga menitu kebudayaan hacking yang sempat menjadi heboh. 'Clueless' memperlihatkan bahwa anak-anak muda di tahun '90-an memang obsessed dengan handphone, merk-merk fashion, dan siapa yang paling populer diantara mereka., sedangkan 'Singles' menampilkan musik dan budaya grunge Seattle sewaktu masa-masa kepopuleran Seattle grunge scene.
• DISASTER:
• The Towering Inferno (1974) :
Dir.: John Guillermin
Starr.: Steve McQueen, Paul Newman
• 28 Days Later (2002) :
Dir.: Danny Boyle
Starr.: Cillian Murphy, Naomie Harris
• Cloverfield (2008) :
Dir.: Matt Reeves
Starr.: Michael Stahl-David, Lizzy Caplan
• Titanic (1997) :
Dir.: James Cameron
Starr.: Kate Winslet, Leonardo DiCaprio
• Alive (1993) :
Dir.: Frank Marshall
Starr.: Ethan Hawke, Vincent Spano, John Malkovich
Film-film disaster dulu sangatlah populer dan diminati oleh penonton pada tahun 70-an, maka dari itu ada banyak film disaster yang dibuat pada tahun-tahun itu. Apakah itu dalam bentuk banjir, gunung meletus, atau kecelakanan pesawat, entah mengapa, orang-orang masih saja ingin menontonnya.
• DOCUMENTARY:
• Bowling For Columbine (2002) :
Dir.: Michael Moore
• Baraka (1992) :
Dir.: Ron Fricke
• No Direction Home : Bob Dylan (2005) :
Dir.: Martin Scorsese
• The U.S VS John Lennon (2006) :
Dir.: David Leaf & John Scheinfeld
• Dogtown and The Z Boys (2001) :
Dir.: Stacy Peralta
Diatas bisa Anda lihat daftar film-film documentary dari berbagai jenis. Ada documetary musical, ada documentary sebuah urban culture, ada documentary khusus audio visual, dsb.
• DRAMA:
• One Flew Over The Cucko's Nest (1975) :
Dir.: Milos Forman
Starr.: Jack Nicholson, Louise Fletcher
• I Am Sam (2001) :
Dir.: Jessie Nelson
Starr.: Sean Penn, Michelle Pfeiffer
• The Remains of The Day (1993) :
Dir.: James Ivory
Starr.: Anthony Hopkins, Emma Thompson
• Brokeback Mountains (2005) :
Dir.: Ang Lee
Starr.: Heath Ledger, Jake Gyllenhaal
• Reign Over Me (2007) :
Dir.: Mike Binder
Starr.: Adam Sandler, Don Cheadle
Menonton sebuah drama beresiko keluar air mata! Drama bisa membuat emosi Anda terguncang seperti di 'Reign Over Me', juga bisa menenangkan Anda, seperti di 'I Am Sam' yang penuh dengan lagu-lagu The Beatles. Indonesia sarat dengan film-film genre drama, terutama yang percintaan, seperti: 'Ungu Violet' dan 'Love'.
• DRAMA COMEDY (DRAMEDY)
• The Darjeeling Limited (2007) :
Dir.: Wes Anderson
Starr.: Adrien Brody, Owen Wilson, Jason Schwartzman
• Broken Flowers (2005) :
Dir.: Jim Jarmusch
Starr.: Bill Murray, Jeffrey Wright, Sharon Stone
• Punch Drunk Love (2002) :
Dir.: Paul Thomas Anderson
Starr.: Adam Sandler, Emily Watson
• The Breakfast Club (2000) :
Dir.: John Hughes
Starr.: Molly Ringwald, Emilio Estevez, Judd Nelson
• American Beauty (1999) :
Dir.: Sam Mendes
Starr.: Kevin Spacey, Annette Benning
Dramedy-dramedy diatas beragam jenisnya. Ada yang bertema memburu cinta, seperi 'Punch Drunk Love' dan 'Broken Flowers', lalu juga ada yang bercerita tentang kehidupan trio kakak adik, seperti di 'The Darjeeling Limited'. Dramedy paling cocok yang ada di Tanah Air mungkin adalah 'Arisan!'. Selain penuh dengan komedi, juga menceritakan kesulitan menjalankan kehidupan di Ibukota.
• EPIC:
• Gone With The Wind (1939) :
Dir.: Victor Flemming
Starr.: Vivien Leigh, Clark Gable
• Lord of The Rings : The Two Towers (2002) :
Dir.: Peter Jackson
Starr.: Elijah Wood, Sean Astin, Cate Blanchett
• The Ten Commandments (1956) :
Dir.: Cecil B DeMille
Starr.: Charlton Heston, Yul Bryner
• Troy (2004) :
Dir.: Wolfgang Petersen
Starr.: Brad Pitt, Eric Bana
• Apocalypse Now (1979) :
Dir.: Francis Ford Coppola
Starr.: Marlon Brando, Martin Sheen
'Ca Bau Kan' adalah contoh film epic Tanah Air, karena secara besar-besaran produksinya, lalu juga mengeluarkan budget yang lumayan banyak dibandingkan biasanya. Itulah yang namanya epic untuk Tanah Air! Epic-epic jaman dulu banyak yang memperlihatkan cerita dari Kitab Suci, contohnya 'The Ten Commandments' yang mengikuti kehidupan Musa. Lalu ada pula epic-epic mengenai legenda, seperti 'Troy'.
• ENSEMBLE CAST:
• Magnolia (1999) :
Dir.: Paul Thomas Anderson
Starr.: Philip Seymour Hoffman, Tom Cruise, William H. Macy, Julianne More
• Babel (2006) :
Dir.: Alejandro Gonzales Inarritu
Starr.: Brad Pitt, Cate Blanchett, Rinko Kikuchi, Gael Garcia Bernal
• Love, Actually (2003) :
Dir.: Richard Curtis
Starr.: Colin Firth, Liam Neeson, Hugh Grant, Alan Rickman, Emma Thompson, Bill Nighy
• Bobby (2006) :
Dir.: Emilio Estevez
Starr.: Harry Belafonte, Nick Cannon, Anthony Hopkins, Sharon Stone, Shia LaBeouf
• Full Frontal (2002) :
Dir.: Steven Soderbergh
Starr.: David Duchovny, Catherine Keener, Julia Roberts, Blair Underwood, Mary McCormack
Mungkin Anda masih ingat film komedi jaman dahulu yang berjudul 'Cintaku di Rumah Susun', dengan banyak pemeran aktor dan aktris yang semuanya familiar di blantika perfilman Tanah Air jaman itu? Nah, itu adalah salah satu contoh dari film jenis ini, dimana seluruh cast-nya sama nge-top-nya dan mendapatkan jatah sama dalam menjalankan cerita film.
• EROTIC DRAMA:
• 9 Songs (2004) :
Dir.: Michael Winterbottom
Starr.: Kieran O'Brien, Margo Stilley
• The Dreamers (2003) :
Dir.: Bernardo Bertolucci
Starr.: Michael Pitt, Eva Green
• Dangerous Liasons (1988) :
Dir.: Stephen Frears
Starr.: Glenn Close, Jon Malkovich
• Closer (2004) :
Dir.: Mike Nichols
Starr.: Jude Law, Julia Roberts
• Y Tu Mama Tambien (2001) :
Dir.: Alfonso Cuaron
Starr.: Gael Garcia Bernal, Diego Luna
Apakah 'Perempuan Punya Cerita' bisa masuk ke dalam kategori ini? Erotic drama sama sekali tidak ada hubungannya dengan blue film, melainkan feature films yang beraura sensual. Dari yang benar-benar 'berani' seperti '9 Songs', sampai yang lebih memancing perasaan sensual daripada memperlihatkan sesuatu yang terlalu erotis, seperti 'Dangerous Liasons'.
• EROTIC SUSPENSE:
• Eyes Wide Shut (1999) :
Dir.: Stanley Kubrick
Starr.: Tom Cruise, Nichole Kidman
• Bitter Moon (1992) :
Dir.: Roman Polanski
Starr.: Hugh Grant, Peter Coyote
• 8 mm (1999) :
Dir.: Joel Schumacher
Starr.: Nicholas Cage, Joaquin Phoenix
• Body Double (1984) :
Dir.: Brian DePalma
Starr.: Melanie Griffith, Craig Wasson
• Fatal Attraction (1987) :
Dir.: Adrian Lyne
Starr.: Michael Douglas, Glenn Close
Ada beberapa nama sutradara yang kerap dihubungkan dengan genre yang satu ini, seperti David Lynch dan Roman Polanski. Entah mengapa namun karya-karya mereka selalu menghadirkan a touch of erotism di sebuah suasana suspense film mereka.
• FAMILY:
• Parenthood (1989) :
Dir.: Ron Howard
Starr.: Steve Martin, Dianne Wiest
• The Royal Tenenbaums (2001) :
Dir.: Wes Anderson
Starr.: Anjelica Huston, Gene Hackman
• Finding Neverland (2004) :
Dir.: Marc Forster
Starr.: Johnny Depp, Kate Winslet
• Meet The Fockers (2004) :
Dir.: Jay Roach
Starr.: Ben Stiller, Robert DeNiro, Dustin Hoffman
• Little Miss Sunshine (2006) :
Dir.: Jonathan Dayton & Valerie Farris
Starr.: Abigail Breslin, Gregg Kinear, Steve Carell
Film-film genre ini selalu memperlihatkan masalah-masalah yang dihadapi sebuah keluarga. Dari keluarga yang agak absurd seperti di 'The Royal Tenenbaums' dan 'Little Miss Sunshine', sampai keluarga yang tidak lengkap, seperti di 'Finding Neverland'. Pokoknya selain menceritakan tentang keluarga, film-film ini juga dapat ditonton oleh semua dalam keluarga Anda. Contoh film di Indonesia: 'Kembang Kertas' dan 'Ibunda'.
• FANTASY:
• Labyrinth (1986) :
Dir.: Jim Henson
Starr.: Jennifer Connelly, David Bowie
• Who Framed Roger Rabbit? (1988) :
Dir.: Robert Zemeckis & Richard Williams
Starr.: Bob Hoskins
• Peggy Sue Got Married (1986) :
Dir.: Francis Coppola
Starr.: Nicholas Cage, Kathleen Turner
• Reign of Fire (2002) :
Dir.: Rob Bowman
Starr.: Christian Bale, Matthew McConaughey
• Lady in The Water (2006) :
Dir.: M. Night Shyamalan
Starr.: Paul Giamatti, Bryce Dallas Howard
Diatas ini terdapat film-film fantasy dari yang memakai karakter-karakter muppet karya Jim Henson, seperti di 'Labyrinth', sebuah film campuran animasi dan real life dalam 'Who Framed Roger Rabbit?', lalau ada juga yang menceritakan bagaimana iba-tiba seorang wanita bisa kembali ke masa lampaunya di 'Peggy Sue Got Married'.
• FILM NOIR:
• China Town (1974) :
Dir.: Roman Polanski
Starr.: Jack Nicholson, Faye Dunaway
• Vertigo (1958) :
Dir.: Alfred Hitchcock
Starr.: James Stewar, KimNovak
• Reservoir Dogs (1992) :
Dir.: Quentin Tarantino
Starr.: Steve Buscemi, Harvey Keitel
• Taxi Driver (1976) :
Dir.: Martin Scorsese
Starr.: Robert DeNiro, Cybill Shepherd
• Memento (2000) :
Dir.: Christopher Nolan
Starr.: Guy Pearce, Carrie-Ann Moss
Film noir adalah sebuah genre film yang agak depresif karena kebanyakan berada dalam keadaam malam atau kegelapan, lalu biasanya memakai Black/White (atau terasa seperti B/W!). Film noir memperlihatkan rahasia-rahasia, intrik-intrik, dan kecurigaan-kecurigaan dalam masyarakat, dan akhirnya pasti ada kematian. Contoh paling keren yang ada di Indonesia adalah karya Joko Anwar berjudul 'Kala'.
• HORROR:
• Carrie (1976) :
Dir.: Brian DePalma
Starr.: Sissy Spacek, Amy Irving
• The Shining (1980) :
Dir.: Stanley Kubrick
Starr.: Jack Nicholson, Shelley Duvall
• Ju-On (2000) :
Dir.: Takashi Shimizu
Starr.: Chiaki Kuriyama
• The Others (2001) :
Dir.: Alejandro Amenabar
Starr.: Nichole Kidman
• A Nightmare on Elm Street (1984) :
Dir.: Wes Craven
Starr.: Johnny Depp, Heather Langenkamp
Mari kita memastikan bahwa tak akan ada lagi yang tak bisa membedakan horror dan thriller/suspense. Horror adalah genre film yang bermaksud menakuti Anda secara jelas-jelasan. Anda akan melihat image-image menakutkan dalam sebuah film horror. Horror biasanya menakuti Anda dengan hantu ('Ju-On', 'The Others') atau pembunuh yang bagikan hantu ('Nightmare on Elm Street', 'Halloween'). Banyak film horror di negara kita yang dapat diberikan sebagai contoh, tapi Anda pasti tahu yang mana saja.
• HEIST:
• Lock, Stock, and Two Smoking Barrels (1998) :
Dir.: Guy Ritchie
Starr.: Jason Statham, Vinnie Jones
• Sneakers (1992) :
Dir.: Phil Alden Robinson
Starr.: Robert Redford, Ben Kingsley
• Ocean's Eleven (2001) :
Dir.: Stephen Soderbergh
Starr.: George Clooney, Brad Pitt
• The Usual Suspects (1995) :
Dir.: Bryan Singer
Starr.: Gabriel Byrne, Kevin Spacey
• Inside Man (2006) :
Dir.: Spike Lee
Starr.: Clive Owen, Denzel Washington
Heist adalah cerita sekelompok manusia yang merencanakan melakukan sesuatu bersama-sama, biasanya mencuri sebuah bank, atau kasino, seperti di 'Ocean's Eleven'
• MOCKUMENTARY:
• This Is Spinal Tap (1984) :
Dir.: Rob Reiner
Starr.: Spinal Tap
• Finishing The Game (2007) :
Dir.: Justin Lin
Starr.: Sung Kang, James Franco
• The Big Tease (1999) :
Dir.: Kevin Allen
Starr.: Craig Ferguson, Frances Fisher
• It's All Gone Pete Tong (2005) :
Dir.: Michael Dowse
Starr.: Paul Kaye, Beatriz Batarda
• Man Bites Dog (1992) :
Dir.: Remy Belvaux
Starr.: Benoit Poelvoorde
Parodi dari documentary. Gaya film dibuat seakan-akan documentary namun sebetulnya semua sudah dilatih. Dengan kata lain, mockumentary adalah documetary palsu. Pasti masih banyak diluar sana yang menyangka bahwa tokoh Frankie Wilde di 'It's All Gone Pete Tong' adalah tokoh yang bukan fiksional!
• MUSICAL:
• Hair (1979) :
Dir.: Milos Forman
Starr.: John Savage, Treat Williams
• Once (2006) :
Dir.: John Carney
Starr.: Glen Hansard, Marketa Irglova
• Across The Universe (2007) :
Dir.: Julie Taymor
Starr.: Jim Sturgess, Evan Rachel Wood
• Hedwig and The Angry Inch (2001) :
Dir.: John Cameron Mitchell
Starr.: John Cameron Mitchell, Michael Pitt
• A Chorus Line (1985) :
Dir.: Richard Attenborough
Starr.: Michael Douglas
Musicals biasanya diambil dari teater lalu dibuat film-nya, juga sebaliknya. Namun ada juga beberapa yang benar-benar asli karya film, seperti 'Once'. Seperti bisa dilihat dari judulnya, 'Across The Universe' berisikan lagu-lagu The Beatles dari bebagai masa kejayaan mereka. Mungkin hanya merekalah yang bisa mengatakan telah berhasil dibuatkan film musical memakai lagu-lagu cipataan mereka!
• MUSIC FILMS:
• 24 Hour Party People (2002) :
Dir.: Michael Winterbottom
Starr.: Steve Coogan, Danny Cuningham
• High Fidelity (2000) :
Dir.: Stephen Frears
Starr.: John Cusack, Jack Black
• Almost Famous (2000) :
Dir.: James Cameron
Starr.: Billy Crudup, Kate Hudson
• August Rush (2007) :
Dir.: Kirsten Sheridan
Starr.: Freddie Higmore, Kerri Russel
• A Hard Day's Night (1964) :
Dir.: Richard Lester
Starr.: The Beatles
Music film dan musical jelas berbeda, karena di music film tidak ada yang tiba-tiba bernyanyi dan berdansa di setiap adegan. Music film adalah film-film yang sangat mementingkan musik dalam alur ceritanya. Di 'Almost Famous' ada adegan dimana seorang kakak mengajarkan adiknya 'mendengarkan' sebuah musik secara seharusnya. Di 'High Fidelity' ada penjual records yang menolak menjual sebuah plat oleh musisi yang tak disukainya kepada seseorang. Sampai segitunya musik berarti untuk mereka. Di Indonesia, yang mendekati sebuah film musik adalah 'Janji Joni' karena koleksi musik di soundtrack-nya yang diisi oleh band-band indie terkeren sekarang ini.
• PARODY:
• Monty Phyton's Life of Brian (1979) :
Dir.: Terry Jones
Starr.: Monty Phyton Comedy Team
• Shaun of the Dead (2004) :
Dir.: Edgar Wright
Starr.: Simon Pegg, Edgar Wright
• Walk Hard: The Dewey Cox Story (2007) :
Dir.: Jake Kasdan
Starr.: John C. Rilley, Jenna Fischer
• Spaceballs (1987) :
Dir.: Mel Brooks
Starr.: Bill Pullman, John Candy
• Austin Powers: International Man of Mistery (1997) :
Dir.: Jay Roach
Starr.: Mike Myers, Elizabeth Hurley
Parody films mengolok-olok film-film populer yang ada di dunia. 'Spaceballs' mengolok-olok film-film science fiction, terutama 'Star Wars', dan 'Shaun of The Dead' adalah parodi terkocak dari film-film horror jenis zombie! Biarpun membuat sebuah parodi, namun produksi mereka tetaplah profesional dan rapih. 'Monty Phyton's Life of Brian' adalah salah satu film komedi yang paling hebat dan pintar sampai sekarang!
• ROADTRIP:
• Thelma & Louise (1991) :
Dir.: Ridley Scott
Starr.: Geena Davis, Susan Sarandon
• Kalifornia (1993) :
Dir.: Dominic Sena
Starr.: Brad Pitt, Juliette Lewis
• Coupe De Ville (1990) :
Dir.: Joe Roth
Starr.: Patrick Dempsey, Daniel Stern
• Stand By Me (1986) :
Dir.: Rob Reiner
Starr.: River Phoenix, Will Wheaton
• Easy Riders (1969) :
Dir.: Dennis Hopper
Starr.: Dennis Hopper, Peter Fonda
Film-film berkonsep road trip memperlihatkan sebuah perjalanan yang ditempuh tokoh-tokoh dalam film tersebut. Ada yang action seperti 'Thelma and Louise', suspense seperti 'Kalifornia', kocak seperti di 'Coupe de Ville', dan coming of age drama seperti 'Stand by Me'. 'Easy Rider' termasuk film road trip pertama di perfilman dunia.
• SCIENCE FICTION:
• 2001: A Space Oddysey (1968) :
Dir.: Stanley Kubrick
Starr.: Gary Lockwood
• Blade Runner (1982) :
Dir.: Ridley Scott
Starr.: Harrison Ford, Sean Young
• Alien (1979) :
Dir. Ridley Scott
Starr.: Sigourney Weaver, Tom Skerritt
• Close Encounters of The Third Kind (1977) :
Dir.: Steven Spielberg
Starr.: Richard Dreyfuss, Fracois Truffaut
• Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004) :
Dir.: Michael Gondry
Starr.: Jim Carey, Kate Winslet
Science fiction selalu menggunakan tema futuristik dan modern teknologi, jadi, biarpun 'Eternal Sunshine of The Spotless Mind' terjadi di dunia modern kita sehari-hari, namun karena alat canggih penghapus memori yang ada dalam film tersebut, maka film ini juga diakui sebagai film science fiction. Pokonya science fiction, seperti judulnya, adalah bagaikan sebuah cerita fiksi. Dari fiksi percintaan, UFO, atau alien...
• SPORT:
• Any Given Sundays (1999) :
Dir.: Oliver Stone
Starr.: Al Pacino, Dennis Quaid
• Bull Durham (1988) :
Dir.: Ron Shelton
Starr.: Kevin Costner, Susan Sarandon
• Cool Runnings (1993) :
Dir.: Jon Turtletaub
Starr.: John Candy
• Wimbledon (2004) :
Dir.: Richard Loncraine
Starr.: Kirsten Dunst, Paul Battany
• Raging Bull (1980) :
Dir.: Martin Scorsese
Starr.: Robert DeNiro, Joe Pesci
Sport juga adalah salah satu tema film paling laku di pasaran perfilman. Dari struggle para pemain sendiri ('Wimbledon'), sampai semua yang ada hubungannya dengan olahraga. (seperti taruhan di...). Cerita-cerita underdog dari tak bisa menangkap bola sampai menskor di kejuaraan besar biasanya paling laku di kalangan masyarakat karena memberikan harapan kepada mereka.
• STONER FLICKS:
• Fear and Loathing in Vegas (1998) :
Dir.: Terry Gilliam
Starr.: Johnny Depp, Benicio Del Torro
• Harold and Kumar Go To White Castle (2004) :
Dir.: Danny Leiner
Starr.: Jon Cho, Kal Penn
• Dude, Where's My Car? (2000) :
Dir.: Danny Leiner
Starr.: Ashton Kutcher, Sean William Scott
• How High (2001) :
Dir.: Jesse Dylan
Starr.: Method Man, Redman
• Fast Times at Ridgemont High (1982) :
Dir.: Amy Heckerling
Starr.: Sean Penn, Jennifer Jason Leigh
Stoner flicks adalah film-film yang khusus dibuat untuk diketawakan oleh para penghisap ganja. Bermula dari seri 'Cheech and Chong', stoner flicks semakin lama semakin banyak, namun ada beberapa yang memang benar-benar lucu biarpun Anda sedang tidak stoned selagi menontonnya.
• TEEN MOVIES:
• The Outsiders (1993) :
Dir.: Francis Ford Coppola
Starr.: C.Thomas Howell, Matt Dillon
• The Virgin Suicides (1999) :
Dir.: Sophia Coppola
Starr.: Kirsten Dunst, Kathleen Turner
• Mean Girls (2004) :
Dir.: Mark Waters
Starr.: Lindsay Lohan, Rachel McAdams
• The Lost Boys (1987) :
Dir.: Joel Schumacher
Starr.: Corey Haim, Jason Patrick
• Donnie Darko (2001) :
Dir.: Richard Kelly
Starr.: Jake Gyllenhaal, Jena Malone
Sayang tidak ada lagi film-film seperti ''The Outsiders' dan 'Dead Poets Society', melainkan diganti oleh dibuatnya film-film konyol semacam 'Epic Movie' dan serinya. Bisa dilihat dari daftar atas ini bahwa masing-masing film mempunyai perbedaan. 'Donnie Darko' adalah teen flicks yang menegangkan, 'The Lost Boys' adalah teen flick yang berjenis horror, sedangkan 'The Virgin Suicides' merupakan drama psikologi yang berat. Teen flick terngetop di Tanah Air adalah 'Ada Apa Dengan Cinta?'
• THRILLER:
• Se7en (1995) :
Dir.: David Fincher
Starr.: Brad Pitt, Morgan Freeman
• Silence of The Lambs (1991) :
Dir.: Jonathan Demme
Starr.: Jodie Foster, Anthony Hopkins
• The Talented Mr. Ripley (1999) :
Dir.: Anthony Mighella
Starr.: Matt Damon, Jude Law
• The Sixth Sense (1999) :
Dir.: M. Night Shyamalan
Starr.: Bruce Willis, Haley Joel Osment
• The Birds (1963) :
Dir.: Alfred Hitchcock
Starr.: Tipi Hedren, Jessica Tandy
Kebanyakan thriller menampilkan tokoh-tokoh yang terganggu jiwanya, seperti di 'Se7en', 'Silence of The Lambs', dan 'The Talented Mr. Ripley'. Namun kadang bisa juga berhubungan dengan dunia mistis, seperti 'Sixth Sense' atau ketegangan total seperti di film klasik 'The Birds'. Film 'Fiksi' telah mencoba untuk menampilkan genre itu di perfilman Indonesia.
• TRAGIC:
• Requiem For A Dream (2000) :
Dir.: Darren Aronofsky
Starr.: Jared Letto, Ellen Burstyn
• Leaving Las Vegas (1995) :
Dir.: Mike Figgis
Starr.: Nicholas Cage, Elizabeth Shue
• Candy (2006) :
Dir.: Neil Armfield
Starr.: Heath Ledger, Abbie Cornish
• Kids (1995) :
Dir.: Larry Clarke
Starr.: Chloe Sevigny, Rosario Dawson
• Elephant (2003) :
Dir.: Gus Van Sant
Starr.: Alex Frost
Film-film tragic memang selalu tragis dan berakhir dengan unhappy endings. Cerita tentang pembantaian di sebuah sekolah yang diambil dari kisah nyata di 'Elephant' adalah sekuel kedua dari trilogy tragis yang diambil dari kisah nyata oleh Gus Van Sant (yang pertama adalah 'Gerry' dan yang terakhir adalah 'The Last days'). Narkotika dan miras adalah substance yang sering ditemukan dalam film-film tragic, seperti di 'Candy', 'Leaving Las Vegas', dan 'Requiem For A Dream'.
• WAR:
• Empire of The Sun (1987) :
Dir.: Steven Spielberg
Starr.: Christian Bale, John Malkovich
• Platoon (1986) :
Dir.: Oliver Stone
Starr.: Charlie Sheen, Willem Dafoe
• Full Metal Jacket (1987) :
Dir.: Stanley Kubrick
Starr.: Matthew Modine, Vincent D'Onofrio
• Jarhead (2005) :
Dir.: Sam Mendes
Starr.: Jake Gylenhall, Peter Sarsgaard
• Good Morning, Vietnam (1987) :
Dir.: Barry Levinson
Starr.: Robin Williams, Forest Whitaker
Seperti nama genre-nya, film-film diatas adalah film-film perang atau seputar sebuah perang.
• WESTERN:
• The Good, The Bad, and The Ugly (1966) :
Dir.: Sergio Leone
Starr.: Clint Eastwood, Eli Wallach
• The Assasination of Jesse James by the Coward Robert Ford (2007) :
Dir.: Andrew Dominik
Starr.: Brad Pitt, Casey Affleck
• Young Guns (1988) :
Dir.: Christopher Cain
Starr.: Emilio Estevez, Kiefer Shutterland
• Dances With Wolves (1990) :
Dir.: Kevin Costner
Starr.: Kevin Costner, Graham Greene
• No Country For Old Men (2007) :
Dir.: Joel & Ethan Coen
Starr.: Tommy Lee Jones, Javier Bardem
Diatas ada beberapa contoh dari beberapa tipe western films yang ada. 'The Good, The Bad, and The Ugly' adalah sebuah film dari jenis spaghetti western (film western buatan Italia) yang populer di tahun '60-'70-an. 'Dances With Wolves' lebih memperlihatkan sisi kehidupan kaum Indian, dan 'No Country For Old Men' adalah film yang bergaya western modern.